Untuk Ibu Bekerja, Agar Karir dan Keluarga Gemilang Bersama

female in action

Beberapa hari lalu, saat sedang asik berselancar di media sosial, mata saya terhenti di sebuah postingan akun parenting. Postingan itu berisi pertanyaan yang diajukan seorang ibu kepada netizen tentang kegalauannya sebagai ibu bekerja, ia bertanya haruskah memilih mengejar impian dalam karir atau mendampingi anak di rumah ?  berikut isi postingannya.

female in action

Perhatian mata saya masih terus berlanjut membaca jawaban dari para ibu netizen di kolom komentar. Jawabannya beragam, ada yang mendukung si ibu untuk tetap bekerja karena  dia punya hak untuk mengejar mimpinya, ada yang menjawab sebaliknya karena menurutnya momen bersama anak tidak akan terulang, lalu malah ada yang ikutan curhat karena sedang mengalami dilema yang sama.

Di sini saya bukan mau ikut berkomentar atau membahas jawaban apa yang sebaiknya dipilih oleh ibu tersebut. Tapi pertanyaan si ibu tadi membuat saya teringat masa lalu. 5 tahun lalu kira-kira saya juga pernah berada di posisi yang sama , bingung antara memilih tetap mengejar karir atau merelakannya demi anak dan keluarga.

Saat itu di tahun 2016, usia saya 25 tahun dan bekerja di sebuah perusahaan teknologi informasi. Di usia itu, saya cukup menikmati pekerjaan dan karir juga sedang berkembang. Banyak kesempatan & peluang yang diberikan oleh perusahaan terkait jenjang karir dan peningkatan skill. Tapi sayangnya masa emas bekerja ini tak bisa lama dinikmati, saya kemudian malah jadi dilema setengah mati.

Pasalnya saat itu saya juga sudah menikah dan memiliki bayi. Dilema, karena di satu sisi, saya begitu menyukai pekerjaan di kantor dan kesempatan untuk mengembangkan karir terbuka lebar. Tapi konsekuensinya, ketika kesempatan itu diambil saya harus lebih banyak merelakan waktu bersama si kecil, akan sering pulang larut dan lembur kala weekend. Belum lagi saya juga harus terus menguatkan hati mendengar suara-suara sumbang dari tetangga, yang sering memandang sinis kondisi saya saat itu karena memilih tetap bekerja setelah punya anak.

Akhirnya setahun kemudian, saya memilih mengalah. Berhenti bekerja karena merasa keseimbangan antara pekerjaan dan waktu untuk keluarga atau work-life balance sulit saya dapatkan.

Tantangan Konflik Peran Ganda bagi Ibu Bekerja

Isu tentang sulitnya mendapat work-life balance adalah kegelisahan lumrah yang dialami setiap ibu bekerja.Dan sebetulnya tantangan yang dihadapi para ibu bekerja, khususnya untuk wanita millenial tidak hanya terpaut pada isu ini saja.

Karena berdasarkan survei berjudul Apa yang Wanita Millenial Cari dalam Karir yang dilakukan majalah Cosmopolitan tahun 2018 terhadap 650 responden wanita, setidaknya ada 6 tantangan yang dihadapi wanita karir millenial yang dapat dilihat pada grafik berikut.

Female in Action

Melihat survei di atas persentase paling besar berasal dari faktor internal atau faktor yang berasal dari dalam diri perempuan itu sendiri yaitu rasa kurang percaya diri, merasa kurang skill/ilmu dan tidak mampu menyeimbangkan antara karir & personal.

Tak bisa dipungkiri, karyawan perempuan yang telah menikah dan punya anak memiliki peran dan tanggung jawab yang lebih berat daripada perempuan single. Mereka harus menjalankan peran ganda yaitu peran dalam keluarga dan peran di dalam karirnya. Dualitas peran ini tak sedikit yang akhirnya menimbulkan konflik peran ganda. Konflik peran ganda adalah kondisi sulitnya menyeimbangkan peran sebagai seorang pekerja, ibu, istri sekaligus pengelola rumah tangga. Konflik peran ganda ini biasanya akan muncul ketika perempuan harus meninggalkan tugas-tugas domestik yang berhubungan dengan anak atau tugas dalam rumah tangga.

Misalnya dalam kasus ibu yang bertanya di sosial media tadi, ketika ia dilema harus meninggalkan anak untuk menjalani masa pelatihan keluar kota sehingga tidak bisa secara maksimal menjalankan fungsinya sebagai ibu.Kurangnya dukungan dari pasangan untuk ikut andil berbagi peran mengasuh anak atau mengerjakan tugas domestik rumah tangga  juga menjadi faktor penambah, seringnya para ibu bekerja ini mengalami kelelahan fisik akibat harus menjalankan beberapa peran sekaligus.

Konflik peran ganda ini juga dapat diperparah dengan adanya stereotip dari lingkungan sekitar yang masih menganggap sinis perempuan yang sibuk mengejar karir. Hal ini bisa mempengaruhi rasa percaya diri ibu bekerja dan merasa dipertanyakan kapabilitasnya dalam menjalankan tugas sebagai istri dan ibu.

Jika ibu bekerja ini terlalu sering menghadapi konflik peran ganda seperti diatas dan tidak dikompromikan, maka akan mudah sekali ia mengalami stress yang hal ini dapat berpengaruh pada keharmonisan keluarga dan performanya di pekerjaan. Jangankan untuk mengejar karir hingga posisi atas, mungkin untuk menjalankan fungsi pekerjaan sehari-hari pun sulit. Dalam pengalaman saya sendiri, ketika tidak ada jalan keluar dari konflik peran ganda ini maka pilihan pahit untuk berhenti bekerja pun terpaksa diambil. Kalaupun memilih untuk tetap bekerja, umumnya mereka cenderung memilih berada di zona nyaman dan enggan untuk mengambil resiko tugas pekerjaan yang lebih menantang.

Female in Action

 

Mengatasi Konflik Peran Ganda pada Ibu Bekerja

Female in Action

Seberat apapun sebuah tantangan pasti bisa dilalui jika mau berupaya mencari solusinya. Layaknya mau mendaki gunung, tantangan berupa jalan terjal, bebatuan, semak atau binatang buas akan ditemui sepanjang perjalanan, tapi bukan berarti tidak ada yang pernah mencapai puncak bukan? begitupun dengan konflik peran ganda ini. Pasti ada jalan bagaimana supaya karir dan keluarga bisa berjalan sukses beriringan.

Saya sendiri saat ini sudah kembali bekerja. Selama 3 tahun rehat, saya mencoba mengurai apa sebetulnya goal yang saya cari dalam karir dan keluarga. Saya juga mencari, solusi apa yang sebetulnya perlu diupayakan agar konflik peran ganda yang pernah saya alami tak perlu terjadi lagi di masa bekerja kali ini.

Dari apa yang saya amati dan terapkan saat ini, setidaknya ada tiga macam upaya yang mungkin bisa dijadikan solusi untuk para ibu bekerja dalam mengatasi konflik peran ganda, diantaranya :

1. Punya Motivasi Kuat Mengapa Memilih Terus Bekerja

Yang pertama adalah punya motivasi diri sebagai pijakan kuat mengapa memilih untuk terus bekerja. Motivasi ini dapat dibangun dengan mengubah sudut pandang dan menanamkan value pada diri.

Tak bisa dipungkiri, stigma yang ada terkadang masih memandang bahwa pilihan menjadi ibu bekerja adalah sikap egois dan mementingkan diri sendiri. Padahal tidak selalu tentu demikian dan sudut pandang ini adalah hal utama yang perlu diubah.

Menjadi ibu bekerja juga bisa dipandang sebagai hal positif, misalnya sebagai bentuk kontribusi pada keluarga. Kontribusi dalam bentuk dukungan finansial. Kontribusi ini tentunya akan berdampak baik bagi kesejahteraan anak dan keluarga ke depannya. Bekerja juga tidak selalu harus dimaknai dengan mencari uang belaka, tetapi bagi sebagian perempuan termasuk diri saya sendiri, bekerja lebih mengacu pada kebutuhan untuk aktualisasi diri. Menurut psikolog, Ratih Ibrahim, seseorang yang telah mencapai aktualisasi diri mampu membangun dan menjaga hubungan lebih baik serta memiliki empati lebih besar. Ketika seorang perempuan merasa bahagia karena telah mencapai aktualisasi diri, otomatis kebahagiaan itu juga akan menyebar ke orang-orang terdekat.

Pentingnya motivasi diri ini juga selaras dengan apa yang disampaikan dalam buku Seri Psikologi untuk Indonesia, yang menyebutkan bahwa :


Artinya jika seorang ibu bekerja memiliki motivasi dan meyakini bahwa peran produktif yang dijalankannya dalam pekerjaan mampu membawa manfaat besar bagi orang-orang disekitarnya, baik itu untuk anak, pasangan, keluarga besar maupun bagi organisasi perusahaan dimana dia bekerja maka keyakinan ini akan menjadi motivasi dan pendorong untuk berjuang menghadapi tantangan yang menghambat karir dan pekerjaan.

Untuk memperkuat motivasi tadi, perlu juga adanya value. Saya sendiri saat ini memiliki tiga value yang secara perlahan mampu memotivasi diri untuk berjuang mengejar impian dan menghadapi tantangan tanpa dibayangi rasa bersalah pada anak dan keluarga karena memilih tetap bekerja, value tersebut yaitu :

*Value kontribusi, bahwa dengan saya bekerja merupakan bentuk kontribusi pada keluarga yang nantinya akan memperkuat kondisi finansial keluarga, tidak hanya bagi keluarga kecil saya sendiri tapi juga bagi orangtua yang sudah sepuh yang membutuhkan dukungan biaya hidup sehari-hari.

*Value pengabdian kepada masyarakat. Saat ini saya bekerja di sebuah startup pengembangan software Ecosystem Human Capital. Dengan keterlibatan saya pada pengembangan software ini artinya saya juga turut andil dalam membangun bangsa melalui jalur pengembangan teknologi di bidang peningkatan sumber daya manusia indonesia.

*Value Self Lovyang artinya saya bekerja untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri yang berdampak pada rasa berharga dan kebahagiaan diri. Happy family comes from a happy mother, insya Allah ketika ibu bahagia maka pancaran kebahagiaan itu juga akan mengalir pada keluarga.

2. Memiliki Support System 

Melalui sebuah tantangan tentu akan lebih mudah jika memiliki pendukung atau support system. Support system ini yang nantinya akan menarik kita untuk terus maju ke depan seberat apapun hambatannya.

Support system yang dimaksud yang pertama adalah suami. Ridha dan dukungan dari suami adalah yang terpenting. Komunikasikan dengan suami tentang kebutuhan ibu untuk bisa terus bekerja, apa motivasinya dan bagaimana pembagian tugas-tugas di rumah nantinya tidak terlalu banyak terhambat oleh konflik peran ganda.

Jika suami juga sibuk maka delegasikan tugas-tugas yang sekiranya tidak bisa di-handle kepada asisten rumah tangga. Dukungan dan bantuan dari orangtua juga tidak kalah penting, terutama bantuan untuk menjaga anak dengan aman ketika ibu sedang di kantor.

3.Terus Tingkatkan Kapasitas Diri

Ketiga, menjalani peran ganda dalam karir dan keluarga perlu dibarengi dengan peningkatan kapasitas diri agar dua peran ini dapat dijalankan dengan seimbang dan bahagia. Meningkatkan kapasitas diri amat berkaitan dengan bagaimana wanita terus mengembangkan personal development-nya. Apa itu personal development dan mengapa hal ini penting bagi ibu bekerja, lebih lengkapnya dapat disimak berikut ini.

Pentingnya Personal Development untuk Karir Ibu Bekerja

Layaknya iman yang bisa futur (naik turun). Begitupun dengan motivasi dan value diri. Dua hal ini mudah sekali naik turun mengikuti perubahan emosi dan tekanan sekitar. Maka untuk menjaga agar motivasi dan value ini tetap ajeg, ibu bekerja perlu terus meningkatkan kapasitas dirinya melalui personal development

Personal development dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan seseorang untuk mengembangkan kesadaran diri (self awareness), potensi, bakat, keterampilan, dan kemampuan. Personal development sangat penting bagi karir karena seiring keinginannya untuk bisa mengembangkann karir dan posisinya dalam pekerjaan  maka tantangannya pun akan semakin meningkat. Personal development ini tidak hanya perlu ditingkatkan dalam pekerjaan, tapi juga dalam  pendidikan, dalam kehidupan pribadi dan keluarga, atau bidang lainnya yang mana semua ini saling berkaitan untuk menunjang kesuksesan perempuan itu sendiri dalam karir dan keluarga.

Beberapa subjek personal development yang penting untuk dipelajari ibu bekerja contohnya stress management, time management, komunikasi dengan pasangan, mindfulness, emotional and self regulation dan lain-lain.

Cara Ibu Bekerja Mengembangkan Personal Developmentnya

Beruntungnya kini perempuan millenial hidup bersama kecanggihan teknologi. Informasi apapun dapat diperoleh melalui genggaman tangan. Begitupun dengan informasi mengenai bagaimana cara mengembangkan personal development . Personal development dengan subjek-subjek di atas kini dapat dengan mudah dipelajari melalui kelas-kelas online, webinar, microblog dan lainnya.

Dari beberapa platform kelas online yang pernah saya ikuti. Rasanya ada satu platform yang perlu saya rekomendasikan pada teman-teman sesama ibu bekerja sebagai tempat paling tepat untuk belajar tentang personal development.  Platform ini bernama FIA .

Female in Action

FIA yang merupakan kependekan dari Female in Action merupakan sebuah platform digital berbasis aplikasi mobile yang menyediakan layanan pemberdayaan karir perempuan. 

Selain fleksibel, dinamis dan modern karena bisa diakses dengan mudah lewat smartphone, layanan dalam aplikasi FIA ini cukup lengkap terutama dalam penanganan karir dan isu-isu perempuan seperti layanan Coaching, Consulting, Event dan FIA Care.

female in action

Yang lebih menarik perhatian dan membuat aplikasi FIA ini cukup berbeda dengan platform lainnya, layanan Coaching dan Consulting yang terasa lebih personal. Pasalnya, pengguna bisa memilih sendiri coach atau consultant-nya lalu sesi konsultasinya bisa dilakukan secara one on one.

Coach dan consultant-nya  juga tidak kaleng-kaleng, mereka adalah para psikolog yang memiliki pengalaman mumpuni dalam menangani isu-isu terkait perempuan. Isu yang mereka tangani juga tidak terbatas pada pengembangan karir saja, isu-isu keluarga misal komunikasi dengan pasangan, permasalahan anak remaja, manajemen waktu, manajemen stres  juga tersedia di aplikasi ini.

female in action

Layanan ini ternyata dihadirkan khusus oleh FIA demi memenuhi misi yaitu

“”Menghadirkan konsep pemberdayaan yang mudah diterima oleh culture di Indonesia dengan konsep balancing work and family yang mengarah pada konsep keseimbangan perempuan pada kodratnya maupun dunia profesional dan karir” (sumber : website resmi FIA)

Waw, jujur  saya cukup speechless membaca misinya ini karena FIA ternyata amat memahami isu yang menjadi keresahan banyak perempuan millenial terutama para ibu bekerja seperti saya terkait bagaimana mencapai kesimbangan dalam karir dan keluarga.

Selain Coaching dan Consulting, FIA juga masih menyediakan dua layanan yang tak kalah kece yaitu FIA Academy dan FIA Care. 

FIA Academy sendiri merupakan sekumpulan program dan layanan yang bisa diikuti oleh para perempuan muda Indonesia berupa mentoring, event, kompetisi, dan banyak kegiatan pengembangan diri yang lain sesuai passion. Temanya juga unik dan beragam mulai dari Beauty Class, Self Healing, Leadership, Digital Career  hingga Personal Branding. Beberapa kegiatan di FIA Academy bisa dilihat pada video berikut ini :

 

Terakhir, FIA memiliki layanan FIA Care. FIA Care merupakan layanan pelaporan dan penanganan kekerasan pada perempuan baik fisik maupun psikis. Tujuan adanya layanan ini agar para perempuan lebih berani untuk menyuarakan berbagai pelecehan atau kekerasan yang selama ini dialami. 

Pengalaman Mengatasi Work from Home Burnout bersama FIA 

Sudah hampir dua tahun pandemi Covid-19 datang dan mengubah pola hidup manusia di seluruh dunia, termasuk saya. Bekerja dari rumah, anak sekolah dari rumah, awal-awal terasa menyenangkan tapi setelah hampir dua tahun menjalani ternyata cukup membuat saya kelelahan lahir-batin akibat tidak ada batasan antara tugas sekolah anak, tugas kantor dan pekerjaan rumah. Kelelahan tanpa jeda ini akhirnya membuat stress. Saya sadar stress ini adalah awal dari gejala yang tidak baik dan bisa mengarah ke mental burn out .Mental yang telah mengalami burnout bisa berpengaruh pada sulitnya meregulasi emosi dan akan  berdampak buruk pada anak, pasangan hingga kinerja di pekerjaan jika tidak segera diatasi.

Pandemi yang membatasi gerak ternyata juga cukup menyulitkan saya untuk bertemu ahli guna membantu mengatasi gejala burnout ini.  Tapi alhamdulillah kemudian saya ingat ada aplikasi FIA yang punya layanan konsultasi dan bisa dilakukan lewat smartphone saja.

Melalui aplikasi FIA,  saya memilih jadwal konsultasi bersama Kak Rizki Restuning Tyas, M.psi, Psikolog. Beliau adalah psikolog berpengalaman dan menangani subjek stress management. Saya langsung membuat jadwal konsultasi dengan beliau di aplikasinya lalu membayar biaya sebesar 50 ribu rupiah untuk satu sesi konsultasi. Biayanya cukup murah kan? hehe

Di hari sesuai jadwal yang ditentukan, saya mendapat notifikasi bahwa sesi akan dimulai pukul 10.00 pagi melalui chat room. Tepat pukul 10, chat room langsung terbuka dan Kak Rizki menyapa saya dengan ramahnya, beliau juga menjelaskan beberapa peraturan selama konsultasi berlangsung.

Karena sesinya hanya 45 menit, saya pun langsung to the point menyampaikan permasalahan yang saya rasakan . Chit-chat konsultasi dengan Kak Rizki kemudian mengalir santai tapi tetap solutif.

female in action

Selesai curhat panjang lebar tentang masalah saya, Kak Rizki kemudian menyampaikan beberapa cara yang bisa dicoba di rumah untuk mengatasi Work from Home Burnout yaitu :

*Pijat Refleksi untuk mengendurkan otot-otot yang tegang karena beban mengerjakan tugas kantor, anak dan rumah. Apalagi jika terbiasa bekerja di depan laptop seharian.

 *Journaling yaitu menuliskan berbagai macam keluhan yang selama ini dialami di kertas lalu membuangnya. Journaling ini semacam menulis untuk terapi membuang semua emosi negatif yang membebani pikiran.

*Membuat Skala Prioritas yaitu membagi-bagi tugas menjadi beberapa bagian berdasarkan skala prioritasnya lalu dikerjakan satu persatu pelan-pelan mulai dari yang paling tinggi prioritasnnya hingga paling bawah.

*Relaksasi pernafasan (hirup 4 detik, tahan 7 detik, di detik 8 hembuskan, lakukan berulang-ulang untuk meregulasi emosi saat muncul rasa ingin meledak.

Jadi demikian, pengalaman saya mengikuti sesi konsultasi melalui aplikasi FIA. Mudah, murah, ringan dan menyenangkan tapi tetap solutif menangani permasalahan yang saya hadapi saat ini. Saya berterimakasih kepada FIA karena telah membantu saya mengatasi masalah stress selama bekerja dari rumah.

Kesimpulan :

Terakhir, yang dapat saya simpulkan dari pembahasan ini :

Ibu bekerja memiliki tantangan sendiri dalam menyeimbangkan peran dalam karir dan perannya dalam keluarga, seringkali dua peran ini menimbulkan konflik peran ganda yaitu sulitnya menyeimbangkan peran antara pekerjaan dan keluarga.

Konflik ini bisa diatasi asal ibu bekerja memiliki motivasi dan value yang akan menguatkan dirinya saat terjadi benturan tugas dalam pekerjaan dan keluarga, dukungan dari support system terdekat yaitu suami dan keluarga juga ikut berperan penting , lalu yang terakhir ibu bekerja juga perlu terus mengembangkan kapasitas dirinya dengan menguasai wawasan dan skill terkait pengembangan diri, agar nantinya dapat diaplikasikan demi mendukung kesuksesan karirnya ke depan.


Salam,
Titik Wihayanti

Artikel Rerefensi :

1. https://www.cosmopolitan.co.id/article/read/8/2018/14557/survei-ini-yang-wanita-milenial-cari-dalam-karir
2. https://books.google.co.id/books?id=3V_rDwAAQBAJ&pg=PA127&lpg=PA127&dq=self+development+careers+perempuan&source=bl&ots=9VksMHyGpB&sig=ACfU3U2sjtPWiQWRXalJTJrnOpmHNSgjrQ&hl=en&sa=X&sqi=2&ved=2ahUKEwi-65TJ7qjzAhU6qpUCHX4_DxYQ6AF6BAghEAM#v=onepage&q=self%20development%20careers%20perempuan&f=false
3. http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=1156699&val=5334&title=PERBEDAAN%20ORIENTASI%20KARIR%20ANTARA%20PRIA%20DAN%20WANITA%20%20PENGARUHNYA%20PADA%20JENJANG%20KARIR%20YANG%20DICAPAI%20OLEH%20WANITA
4. https://media.neliti.com/media/publications/177455-ID-konflik-peran-ganda-karyawan-wanita-dan.pdf
5. https://karir.itb.ac.id/articles/detail/982

6.https://www.antaranews.com/berita/653527/pentingnya-aktualisasi-diri-untuk-perempuan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *