Review buku : Cinta yang Berfikir (Manual pendidikan karakter Charlote Mason )

Awal perkenalan saya dengan metode charlote mason adalah saat mengikuti webinar tentang homeschooling anak usia dini yang diadakan oleh @rumahinspirasi.id, dalam materi webinar tersebut  saya  teredukasi tentang beberapa metode pendidikan homeschool, yang salah satunya metode Charlote Mason (CM). Saat webinar berlangsung dan sedang membahas tentang metode CM ini,  Mas Aar ( founder rumah inspirasi) menjelaskan secara singkat tentang living book yaitu kurikulum dalam CM yang mengharuskan orangtua untuk menyediakan bacaan bermutu bagi anak agar dapat menyuguhkan inspirasi dari kisah-kisah terbaik dan menghidupkan ide-ide besar dalam diri anak, inspirasi dan ide yang akan mendorong anak melakukan hal-hal  besar dan inspriratif juga dalam hidupnya kelak . Saya langsung tertarik dengan living book ini dan berniat  memperlajarinya metode CM lebih lanjut. Singkat cerita akhirnya saya mencari info tentang CM di internet dan bertemulah dengn website komunitas charlote mason indonesia ( CMI). Saya membaca beberapa artikel di website tersebut lalu menjadi semakin tertarik dengan metode ini. Kemudian saya memutuskan untuk membeli buku Cinta Yang Berpikir ini sebagai langkah awal saya memperlajari CM lebih lanjut, buku cinta yang berpikir ini ditulis oleh Ellen Kristi pendiri Komunitas Charlote Mason Indonesia.
Sesuai dengan yang sudah saya sebutkan pada judul artikel, pada ada kesempatan kali ini saya akan menuliskan review buku Cinta Yang Berpikir. Selengkapnya tentang buku ini bisa disimak pada pembahasan berikut :

CM
Cover Buku

Informasi umum :
Judul buku : Cinta yang berpikir ( sebuah manual pendidikan karakter Charlote Mason)
Penulis : Ellen Kristi
Tahun terbit : 2016 ( edisi revisi)
Penerbit: Ein Istitute

Isi buku :
Bab pertama buku ini dibuka dengan pembahasan lengkap mengenai filosofi dalam metode Charlote Mason yang terbagi dalam 10 bagian. Selama membaca bagian ini banyak sekali saya disuguhkan dengan pemikiran Charlote yang mendalam tentang bagaimana seharusnya mendidik anak atau bagaimana seharusnya pendidikan bagi anak dijalankan,  tentang kenapa  kita hrus menerapkan cinta yang berpikir dalam mendidik anak kita? Tentang hakikat anak bahwa ia bukan kertas kosong yang bebas kita isi dengan apa saja namun ia terlahir dg membawa potensi  baik dan buruk,  tugas kita sebagai orangtua lah yang hrus mengarahkan agar ia bisa terus mengembangkan pontensi baiknya. Kita juga dipaparkan tentang batapa pentingnya merumuskan filosofi pendidikan dalam keluarga agar dalam mendidik anak kita memiliki rambu-rambu yang jelas . Pentingnya menghadirkan atmosfer inspiratif dalam keluarga dengan kita orangtua sebagai teladan baik yang bisa mereka contoh. tentang melatih kebiasaan baik dan dispilin bagi anak secara teratur sejak kecil , kebiasan baik ini yang akan membentuk prilaku dan karakter mereka saat dewasa nanti. Dan masih beberapa lagi rumusan filosofi Charlote Mason yang sangat sangat perlu sekali dibaca oleh setiap orangtua.

Selanjutnya dibagian kedua merupakan pembahasan lengkap tentang kurikulum yang ada dalam metode Charlote Mason yang terbagi dalam 25 bagian. Sangat lengkap mulai membaca, menulis, tatabahasa,sejarah, sastra, kewarganegaraan, pendidikan agama, bahasa asing, musik seni, sains, matematika dan logika, pendidikan jasmani dan masih banyak lainnya. Yang menarik dalam kurikulum CM adalah adanya living books, narasi, nature walk dan nature study. Ketiga hal ini merupakan ikon dalam kurikulum CM. Dan dalam buku ini dibahas sangat lengkap mengenai 3 ikon tersebut. bahkan dibagian akhir buku terdapat daftar contoh living books atau buku bacaan bermutu yang disarankan oleh Ambelside Online. Dan buku-buku tersebut sudah ada terjemahannya dalam bahasa indonesia.

Review Buku: Berteman Dengan Demam

Dibab ke 3 terdapat pembahasan antara metode CM dengan beberapa metode pendidikan homeschooling lain. Metode tersebut antara lain unit studies, unschooling, classical education, montessori dan warldorf. Penulis membahas lengkap perbandingan metode CM dengan beberapa metode hs lain tersebut. Mulai dari filosofi hingga kurikulumnya.
Dibagian akhir buku pada bagian lampiran terdapat butir filosofi pendidikan Charlote Mason, contoh-contoh  living book rekomendasi ambelside online hingga daftar bahan belajar jika ingin mempelajari metode CM lebih lanjut.
dilembar halaman terakhir buku ada tambahan  20 butir pendidikan Charlote Mason .

Kesan pribadi  setelah membaca buku ini :

Kesan setelah membaca buku ini adalah “waw luarbiasa”, penulis benar- benar bisa menyajikan pembahasan metode CM dengan sangat baik, penjelasan lengkap dan logis. Beberapa kali setiap selesai membaca satu bab, saya pasti selalu bergumam ” iya betul ini harusnya begini” .Misalnya ketika membahas tentang mengapa orangtua perlu menerapkan cinta yang berpikir ketika mendidik anak2nya ? saya sangat setuju  karena cinta saja tidak cukup. Rasa cinta  terhadap anak kadang mendorong kita untuk memberikan semua yang diinginkan anak. Misalnya  ketika anak merengek meminta mainan saat sedang berbelanja padahal mainan yang sama sudah ada di rumah, karena tidak tega melihat anak menangis akhirnya orangtua luluh dan membelikan. Tidak tega melihat anak sedih dan menangis memang bentuk rasa cinta orangtua kepada anaknya. Namun dalam kasus ini justru rasa cinta orangtua akan membuat anak tidak berpikir bijak. Jika kejadian sama sering terjadi akan membuat anak berpikir bahwa semua keinginannya harus di turuti oleh orangtuanya. Tentu hal ini tidak baik bukan untuk masa depannya? Anak perlu belajar rasa kecewa karena semakin ia besar, ia akan sadar bahwa tidak semua hal yang dia mau dalam hidup bisa terwujud dengan mudah.  Itulah mengapa kita perlu menanamkan cinta yang berpikir, cinta yang mampu mendorong kita mendidik anak menjadi pribadi yang mandiri bertanggung jawab juga bs bermanfaat untuk sesama.

Kesan lain yang membekas dari membaca buku ini adalah pada bagian penulis yang mengkritik praktik pendidikan di negara kita.  Misalnya mengukur tingkat keberhasilan pendidikan dengan aneka ujian piilihan ganda, ujian semacam itu tidak bisa merepresentasikan hasil dari materi yang sudah dipelajari anak, jika ingin mengukur sejauh mana anak berhasil dan paham dalam sebuah mata pelajaran bisa menggunakan salah satu kurikulum CM yaitu narasi. Narasi adalah karya yang dibuat oleh anak sebagai hasil dari mereproduksi bacaan, pengalaman, atau hal yang ia pelajari dengan cara menceritakan kembali baik dalam bentuk lisan maupun dalam bentuk tulisan.

Kedua ketika belajar tentang sains, selama ini ketika anak memperlajari hal tentang sains terutama dalam bidang biologi anak-anak disuguhkan bentuk mahluk hidup hanya dalam bentuk gambar, tidak belajar langsung dalam bentuk konkret sehingga hasil yang dipelajari anak kebanyakan hanya dalam bentuk hafalan semata. Padahal ketika belajar tentang sains atau hal yang berhubungan dengan alam sebaiknya anak belajar dengan cara praktik langsung. Dalam metode CM kegiatan yang dapat merepresentasikan hal ini adalah Nature Walk dan Nature Study. Nature Walk dikhususkan untuk anak usia prasekolah dimana ia dapat mengenal alam secara langsung dengan melakukan kegiatan menjelajah alam. Sedangkan Nature Study mirip dengan nature walk namun memiliki tingkatan lebih tinggi yaitu diperuntukan untuk anak usia sekolah dengan membuat sebuah jurnal berisi hal-hal yang sudah dia pelajari langsung dari alam.

Kesan akhir buku ini sangat saya rekomendasikan untuk setiap orangtua atau pendidik yang ingin menjadi pendidik filosofis dan juga ingin mempelajari metode CM. Isinya sangat bisa memberikan gambaran luas tapi ringkat tentang Metode CM.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *