Pengalaman menyapih naoki

Sebenarnya saya agak malu mau sharing mengenai pengalaman menyapih naoki kali ini. Agak malu karena dalam prosesnya ada satu hal kurang baik yang saya terapkan,  tapi karena ada beberapa teman yang request sharing tentang pengalaman menyapih ini maka akan saya coba tulisakan dalam blog. Mohon ambil hal-hal yang baik saja ya.

Sejak usia naoki satu tahun sudah saya niatkan akan menyapih dengan metode WWL. Metode WWL atau Weaning With Love adalah metode menyapih anak tanpa paksaan, yang artinya ibu membiarkan anak yang mengakhiri sendiri masa menyusunya tanpa memaksa. Yang dimaksud dengan “memaksa” ini  adalah tanpa proses adaptasi dan langsung meminta anak berhenti menyusu. Yang lumrah biasanya memaksa dengan mengoles sesuatu yang tidak enak di payudara agar anak takut atau kapok. Menurut teori WWL, menyapih dengan metode “memaksa” ini bisa menyakiti hati anak karena dipaksa mengakhiri sesuatu yang selama ini menjadi kebutuhannya yaitu menyusu dan juga bisa merenggangkan bonding (kelakatan) antara ibu dan anak yang sudah terbangun selama 2 tahun masa menyusui.

Begitu kira-kira teori singkat yang saya tahu tentang WWL, kalau teman-teman butuh lebih banyak info tentang WWL silakan browsing sendiri ya.  Awalnya saya akan memakai metode ini karena saya rasa apa yang menjadi alasan WWL sangat masuk akal, saya ingin pelan-pelan menyapih naoki dan saya juga kok agak ga tega kalo harus maksa naoki langsung berhenti menyusu sambil ditakut-takuti dengan mengoles obat merah, lipstik dll . Tapi rencana kadang tidak sesuai realita bukan? Pada akhirnya saya tidak secara pure menggunakan WWL, karena jika memilih pure WWL akan memakan waktu yang lama bisa sampai berbulan-bulan tergantung kapan anak mau mengakhiri sendiri masa menyusunya.  Sedangkan saat itu 2 bulan lagi sudah mau puasa ramadhan,saya ingin bisa kembali puasa sebulan penuh karena selama 2 tahun menyusui naoki saya tidak bisa puasa full. Meski tidak Pure WWL bukan berarti  saya memaksa langsung berhenti menyesu dan oles-oles payudara dengan obat atau makanan pahit lain. Saya tetap menggunakan tahapan ala WWL,  apa saja tahapannya?

  1. Mengurangi frekuensi menyusui

Sejak usia naoki 20 bulan saya mulai mengurangi waktu menyusui naoki, kalau sebelumnya saya selalu bolehkan dia menyusu kapanpun dia minta dan mau. Maka sejak usia ini saya hanya menyusui naoki di malam hari dan saat akan tidur siang atau kondisi darurat misalnya saat anak tantrum.Kebetulan juga saat itu naoki tidur siang hanya sekali sehari jadi frekuensi menyusu di siang hari sudah sangat berkurang. Kalaupun naoki minta menyusu diluar jadwal segera saya alihkan dengan memberi cemilan atau susu UHT. Tujuan dari mengurangi frekuensi menyusu ini agar anak tidak kaget jika suatu saat harus benar-benar lepas dari menyusu.

  1. Sounding berkali-kali

Sounding juga saya lakukan bersamaan dengan waktu mengurangi frekuensi menyusu sekitar usia 20 bulan. Sounding dapat lakukan dengan mengucapkan kalimat  yang sama berulang-ulang terutama ketika anak akan tidur, tepatnya saat anak setengah sadar atau bahasa mudahnya “pas banget mau tidur terlelap, pas matanya setengah terbuka”.  Tujuannya untuk mempengaruhi alam bawah sadar anak agar kalimat yang sudah diberikan tadi tertanam di bawah sadarnya dan bisa mempengaruhi perilaku anak agar mengikuti apa yang kita mau.

Tujuan lain kenapa saya menerapkan sounding ini yaitu untuk memberi pengertian ke naoki kenapa dia perlu berhenti menyusu, harapan saya kalau nanti dia memang sukes sapih bukan karena saya paksa tapi karena dia juga paham alasan kenapa dia harus berhenti menyusu.

Contoh kata-kata yang saya pakai dulu adalah “ Nak naoki sebentar lagi usianya 2 tahun, kalo sudah 2 tahun ga mimi lagi ya, kalau haus minumnya pakai gelas,” atau “Nak kan naoki usianya sebentar lagi 2 tahun, kalau sudah 2 tahu kata Allah di Al-quran sudah ga mimi lagi, naoki mau kan disayang sama Allah, kalau mau naoki ikuti kata Allah ya nak, miminya sekarang pake gelas aja”.

  1. Kuatkan mental ibu

Setelah frekuensi menyusui berkurang dan sounding sudah sering dilakukan selanjutnya tinggal praktek saat hari H. Yang sangat perlu dipersiapkan saat proses sapih adalah kuatkan mental. Benar-benar harus tega mendengar anak menangis terutama di malam hari. Serta siap-siap kurang tidur.

  1. Praktek di hari H

Saat itu tepat usia naoki 2 tahun 2 bulan saya memulai proses sapih,  prosesnya memakan waktu sekitar 2 minggu dan kira-kira seperti ini prosesnya:

Minggu pertama:

  • Saat tidur siang

 Saya ajak naoki minum susu UHT dulu sebelum tidur, karena masih hari pertama awalnya dia nangis minta mimi tapi saya coba alihkan dengan diajak menyanyi sambil diusap-usap. Selain itu saya juga coba sounding lagi dengan kalimat yang sebelumnya. Alhamdulillah dia bisa tidur lelap tanpa menyusu.

  • Saat mau tidur malam

Sebelum tidur saya kasih susu UHT dulu agar perutnya kenyang dan tidak minta mimi.Saya coba kasih pengertian dengan kalimat seperti ini “ Dek kan sekarang usianya sudah 2 tahun, berarti sudah ga mimi lagi ya. Kalo mau bobo juga ga mimi lagi, dedek peluk ibu aja ya sambil diusap-usap, nanti ibu sambil nyanyi ya”. Awalnya dia tidak mau,mulai drama nangis ngerengek-rengek minta mimi tapi saya harus konsisten dan sabar terus kasih pengertian. Akhirnya dia mau tidur tanpa mimi. Alhamdulillah.

  • Saat terbangun tengah malam

Saat terbangun tengah malam diminggu pertama ini saya masih kasih mimi ke naoki, kenapa ga langsung di berhentiin juga? Karena saya pengen pelan-pelan prosesnya dan masih kasihan kalau harus tidak nyusu sama sekali.

Minggu kedua:

  • Saat tidur siang

Masuk minggu kedua  alhamdulillah tidur siang bisa dilalui dengan baik tanpa minta mimi.

  • Saat tidur malam

Masuk minggu kedua juga  sudah bisa tidur malam tanpa drama minta mimi. Di minggu kedua ini saya juga minta bantuan suami untuk ngajak naoki tidur sehingga dia benar-benar lupa minta mimi.

  • Saat terbangun tengah malam

Dimasa inilah benar-benar kesabaran saya diuji, hari pertama naoki terbangun minta mimi tidak saya kasih. Saya coba sounding seperti sebelumnya. Dan apa yang terjadi? Naoki nangis, ngamuk teriak-teriak, nendang-nendang kesana kemari. Pokoknya tantrum hebat.  Malam itu saya juga ikut nangis karena ga tega tapi dilema mau kasih mimi apa tidak. Akhirnya hari pertama masih saya kasih karena benar-benar ga tega lihat anak ngamuk seperti itu.

Di hari berikutnya saya coba kuatkan tekat untuk ga kasih sama sekali naoki saat terbangun, tapi sebelum tidur saya sounding lagi “nanti kalau tengah malam bangun dan dede haus minum susu aja ya nak, jangan mimi ke ibu, kan sudah 2 tahun”.

Alhamdulillah walaupun masih nangis tapi tidak sampai ngamuk dan tantrum seperti sebelumnya. Ketika sudah masuk hari ke 5 di minggu kedua  naoki sudah bisa benar- benar tidak menyusu lagi siang dan malam. Sapih alhamdulillah berhasil.

Dimasa-masa proses sapih ini harus benar-benar sabar dan siap-siap kurang tidur karena kadang setelah terbangun anak ga langsung tidur lagi, tidur seperti resah guling kesana kemari karena mungkin anak juga lagi berusaha mencari alternatif kenyamanan lain supaya bisa tidur tanpa menyusu

Yang perlu diperhatikan juga sebelum proses sapih dimulai pastikan anak dalam kondisi sehat. Jika anak dalam kondisi sakit biasanya sangat nempel dengan ibunya, prosesnya akan semakin sulit. Sayapun tadinya mau memulai sapih naoki di usia tepat 2 tahun tapi saya tunda dulu karena naoki sempat sakit.

  1. Konsisten

Jika proses sapih sudah berhasil selanjutnya yang perlu dilakukan adalah bersikap konsisten. Dulu saya melakukan kesalahan di tahapan ini, kesalahan ini yang diawal sempat saya sebut. Bahwa ada satu hal kurang baik yang teraksa saya terapkan.

Jadi saat proses sapih sudah berhasil di 2 minggu sebelumnya. Ehh saya dan suami malah liburan. Saat sudah selesai jalan-jalan karena mungkin kecapekan, malamnya saat dihotel naoki jadi rewel dan mulai ingat lagi minta mimi. Saya yang saat itu juga sedang super duper capek akhirnya jadi ga tega dan kasih mimi naoki lagi.Saya berpikir “Gpplah sekali aja, nanti juga pasti lupa lagi”

Ternyata saat sudah dirumah? Gonjreeng…!!! saya salah besar,  saat saya bilang ga boleh mimi lagi dia langsung tantrum hebat. Saya langsung nyesel. Dan harus mulai dari awal lagi proses sapihnya.Lalu ada satu kesalahan lagi yang lakukan,karena saking paniknya karena takut jadi gagal sapih, saya sempat sekali mengoles payudara dengan asem jawa. Saat naoki bilang mau mimi saya katakan payudara ibu sakit  ada hitam-hitamnya. Karena naoki anaknya agak gampang jijik. Dia jadi tidak mau mimi lagi. Caranya berhasil sih, tapi saya jadi seperti ngajarin anak berbohong. Sedih rasanya. Jangan di tiru ya.

Saya menyesal sekali saat itu  seharusnya kalau saya bisa konsisten, sapih sudah bisa berhasil tanpa perlu bohong ke anak.

Jadi begitulah kira-kira pengalaman saya menyapih naoki dulu, jangan lupa untuk libatin suami ya dalam prosesnya. Terutama saat ngajak anak tidur malam hari. Itu sangat membantu anak lupa minta menyusu. Semoga sharing ini bermanfaat dan mohon ambil baiknya saja ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *