Mengenal apa itu golden age dan bagaimana memaksimalkan perode emas ini untuk mendukung anak tumbuh dengan baik di masa depan

Dulu saya pernah memiliki pemahaman bahwa agar anak- anak dapat tumbuh menjadi anak yang berkarakter  baik. Taat pada aturan agama, mandiri, bertanggung jawab, menolong, cerdas dan hal – hal baik lainnya. Saya perlu mengajarkan hal – hal ini ketika anak sudah memasuki usia sekolah SD. Alasannya aaat anak sudah pada masa usia sekolah SD akan lebih mudah di bimbing, dididik dan diarahkan karena umumnya anak usia SD sudah mampu berpikir konkret. Sudah mampu bernalar dan sudah bisa diajak berdiskusi tantang banyak hal. Saya pikir saat ini juga adalah waktu yang tepat untuk mengajarkan tentang ibadah. Alasannya karena usia 7 tahun anak sudah mulai wajib mengerjakan shalat, sehingga masa ini tepat sekali untuk mulai mengajarkan tentang ibadah. Lalu bagaimana dengan usia sebelum 7 tahun? Ya bermain sajalah. Anak-anak umur dibawah 7 tahun pasti belum mengerti diajarkan tentang kemandirian, ibadah, agama dan lainnya. Pemikiran seperti  inilah yang dulu saya pahami.

Kemudian sejak saya dan naoki sakit secara bersamaan di tahun 2016. Saat itulah titik perubahan diri saya sebagai orangtua. Cerita lengkap tentang sakit dan perubahan ini bisa dibaca di sini. Sejak  peristiwa sakit saat itu, Saya mau mulai belajar tentang parenting. Tentang bagaimana mendidik anak dengan baik dan benar. Saya membaca banyak  artikel parenting, membaca buku. Ikut seminar dan grup-grup parenting. Dari sini kemudian saya mulai paham bahwa masa paling penting dalam kehidupan anak itu justru ada di fase 0-6 tahun. Fase ini disebut dengan golden age.

APA ITU GOLDEN AGE?

Golden age adalah periode emas pada masa awal kehidupan anak. Yaitu usia 0-6 tahun. Pada fase ini otaknya yang berkembang lebih pesat dibanding fase usia lainnya sehingga ia akan mudah menyerap segala sesuatu yang ia amati dan pelajari dari lingkungan. Fase ini juga sangat penting karena menjadi pondasi pembentukan karakter dan kepribadian anak yang akan terbawa hingga usia dewasa.

MENGAPA GOLDEN AGE BEGITU PENTING?

Sebelum saya menjelaskan alasan kenapa fase ini begitu penting bagi tumbuh kembang dan bahkan kehidupan anak selanjutnya. Saya akan mengutip beberapa pendapat para pakar dari  buku parenting yang pernah saya baca tentang pentingnya fase goden age.

Dalam buku rumahku madrasah pertamaku karya DR. Khalid Ahmad Syantut:

Psikolog Rene Dobo, dalam bukunya Isaniyyatul insan bercerita “ Aku tumbuh sehat, sukses, dan bahagia di amerika. Tapi meski sudah 40 di amerika aku tidak bisa melupakan kebiasaan masa kecilku di Prancis dulu. Disanalah karakterku terbentuk dan karakter itu tidak akan mungkin hilang dariku”.

Kenangan di usia dini, lanjut Dobo, akan membentuk sifat dan karakter alami anak yang tidak mungkin diubah setelahnya. Ketika seorang anak mencapai usia tiga atau empat tahun, pola tingkah lakunya sudah terbentuk secara sempurna. Pola ini didapat dari hasil interaksi budaya dan interaksi dengan lingkungannya.

Dari hal ini kemudian Dr.Khalid menyimpulkan bahwa Nilai moral dan sosial yang terbentuk di dalam rumah, pada fase usia dini akan menjadi karakter anak seumur hidup.

Dalam buku What to Expect The Toddler Years Karya Arlene Eisenberg, Heidi Murkof, Sandee Hathaway:

It has become increasingly clear that a child first three years of life lagerly determine his or her future developmental trajectory. To large extent, these early years set the stage for later outcomes in personal healt, emotional development, educational attainment, social competence, self-confidence, self reliance and positive human relationship. (Hal yang sudah sangat jelas bahwa 3 tahun pertama kehidupan anak secara luas menentukan lintasan perkembangan masa depannya. Untuk lebih luasnya, masa awal usia tersebut menentukan pondasi perkembangan emosi, pencapaian pendidikan, kompetensi sosial, kepercayaan diri, nilai diri, dan hubungan sesama manusia yang positif yang akan tampak dikemudian hari).

Dari dua kutipan pendapat di atas cukup jelas menyebutkan bahwa fase awal kehidupan anak sangat menentukan perkembangan masa depannya. Terutama yang berhubungan dengan pembentukan karakter pribadi anak. Apakah ia akan mampu menjadi anak yang mandiri, mampu mengelola emosi dengan baik, memiliki kepercayaan diri, mampu berinteraksi sosial dengan baik saat dewasa sangat ditentukan di masa awal kehidupan anak. Terbentuknya karakter pribadi anak ini dipengaruhi oleh nilai moral dan sosial dari lingkungan terdekatnya yaitu lingkungan rumah, dalam hal ini yang sangat berperan membentuk karakter anak tentu saja adalah orangtuanya.

BAGAIMANA MEMAKSIMALKAN MASA GOLDEN AGE UNTUK MENDUKUNG ANAK TUMBUH DENGAN BAIK DIMASA DEPAN?

Setelah mengetahui betapa pentingnya fase ini tentu kita ingin mengetahui  hal-hal apa saja yang bisa dilakukan  orangtua untuk mendukung tumbuh kembang anak  pada fase ini. Hal -hal tersebut diantaranya :

  1. Menyediakan lingkungan yang nyaman dan aman bagi anak-anak

Lingkungan rumah yang nyaman bagi anak-anak adalah lingkungan yang menyediakan banyak hal untuk dieksplor oleh anak. Di dalam rumah misalnya ada mainan yang bisa diotak atik oleh anak untuk memenuhi rasa ingin tahunya yang sangat tinggi. Di luar rumah orangtua bisa menyediakan permainan yang bisa mengeksplor motorik kasar anak seperti ayunan, tangga, sepeda dll.Orangtua juga bisa mengajak mengeksplor alam  bebas, bermain batu, tanah, pasir dan melihat aneka daun dan pohon.

Selain lingkungan secara fisik, orangtua juga perlu menyediakan lingkungan yang aman secara pskilogis bagi anak,  yaitu lingkungan yang minim  pertengkaran atau perselisihan yang bisa didengar dan disaksikan langsung oleh anak. Hubungan yang sehat dari kedua orangtuanya merupakan salah satu faktor utama dalam mendukung tumbuh kembang anak. Hubungan yang sehat dalam pernikahan akan mempengaruhi emosi positif dalam diri orangtua, orangtua yang emosi positinya stabil akan mampu membimbing dan mendidik anak dengan cara yang positif pula. Insya Allah tidak akan mudah tersulut emosi negatifnya seperti mudah marah ke anak, mudah membentak dan tidak mudah menghakimi jika anak melakukan kesalaham kecil. Jika orangtua mampu menciptakan lingkungan psikologis dalam rumah seperti ini maka anak akan tumbuh optimal di dalamnya.

  1. Memberi perhatian dan kasih sayang cukup

Kasih sayang dan perhatian yang cukup sangat penting agar tumbuh perasaan diterima dan berharga dalam diri anak. Orangtua yang  tidak hanya ibu, tapi juga ayah yang mau menyediakan waktu bersama anak secara berkualitas akan membuat jiwa anak terisi. Anak tidak akan mudah rewel atau berulah demi mencari perhatian orangtuanya. Menemani anak bermain, membaca buku untuk anak, atau hanya sekedar ngobrol dan bercanda hal-hal sepele cukup untuk memenuhi waktu  berkualitas bersama anak. Anak yang cukup perhatian dan kasih sayang dari kedua orangtuanya membuat  jiwa anak terisi  dan ia akan tumbuh menjadi anak yang bahagia. Perasaan bahagia akan mendorong tumbuhnya rasa percaya diri dalam diri anak. Ia akan siap secara mental dan fisik menghadapi lingkungan yang lebih luas setelahnya yaitu lingkungan sekolah dan masyarakat.

  1. Menanamkan kebiasaan baik sejak dini

Melatih kebiasaan baik merupakan pondasi awal dalam menumbuhkan karakter baik anak. Melatih kebiasaan baik untuk bisa dimulai sejak anak berusia 2 tahun. Beberapa contoh kebiasaan baik yang perlu dilatih sejak dini:

  • Mengelola emosi dengan baik

anak usia balita umumnya masih memiliki emosi yang labil, masih mudah marah jika ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Dan tugas orangtua adalah mengajari anak agar dapat mengkomunikasikan emosi yang dirasakan anak dengan cara yang baik dan menyalurkan emosi tersebut dengan baik pula. Bagaimana cara memahami dan mengelola emosi anak bisa dibaca di sini dan di sini.

  • Menanamkan kemandirian

Bisa dimulai dengan memberi tanggung jawab kecil seperti  membereskan mainan, membuang sampah pada tempatnya, mengelap minuman yang tumpah di lantai. Mencuci piring gelas bekas makan sendiri. Dan tanggung jawab kecil lain yang bisa diberikan bertahap sesuai dengan usia anak.

  • Menanamkan kebiasaan cinta belajar

Menamankan  ini bisa dimulai dengan memberi kepercayaan anak untuk mencoba banyak hal dan tidak sering melarang ini itu. Kebiasaan terlalu sering melarang akan membatasi kemampuan eksplorasi dan keingintahuan anak. Eksplorasi dan rasa ingin tahu ini penting karena  merupakan modal awal bagi anak untuk cinta terhadap kegiatan belajar. Biarkan anak bermain tanah, bermain air asalkan diawasi penuh oleh orangtua. Selain itu jika usia anak semakin besar orangtua bisa menanamkan kebiasaan cinta belajar ini dengan sering mengajak anak membaca buku, membuat permainan edukatif  atau mengajak anak mengeksplor alam.

  • Menanamkan kebiasaan cinta beribadah

Kebiasaan baik yang juga perlu ditanamkan sejak dini adalah kebiasaan dan cinta beribadah. Tujuannya agar saat anak sudah memasuki usia 7 tahun ia sudah familiar dengan kegiatan ibadah sehingga mudah untuk diajak shalat maupun mengaji. Menanamkan kebiasaan ini salah satunya dapat dilakukan dengan sering-sering melibatkan anak saat orangtua sedang shalat atau mengaji.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *