Serunya menanamkan budaya membaca pada anak menggunakan bacaan digital dari Let’s Read

Dulu saat saya masih kecil,  setiap menjelang lebaran di antara tahun 1997 sampai 2000-an adalah saat-saat yang paling saya dan adik tunggu. Kami sedang menunggu datangnya sesuatu yang sudah dinanti selama setahun. Bukan, kami bukan menunggu baju atau sepatu baru seperti anak lainnya saat lebaran. Yang kami tunggu ini berbeda. Kami menunggu datangnya buku. Buku-buku bacaan yang dibawa oleh kakak dari Bandung saat mudik ke kampung.

Saya dan adik tumbuh besar dengan ditemani banyak cerita dalam buku. Meskipun kami tinggal di pelosok desa dibagian timur provinsi Lampung, yang sangat jauh dari kota dan tentu tidak ada toko buku.Tapi kami sangat bersyukur kedua kakak kami yang saat itu kuliah di Bandung sering membawakan buku cerita saat mudik. Buku cerita yang awalnya hanya dibawakan satu dua tapi  karena ternyata kami sangat menyukainya. Kelamaan  jadi dibawakan dalam jumlah banyak dan jadi runtinitas tahunan yang selalu kami nanti saat lebaran.

Budaya membaca yang terbangun sejak kecil ini  ternyata terus terjaga hingga dewasa, saya tetap menjadikan membaca sebagai bagian dari rutinitas harian. Terasa sekali banyak manfaat yang bisa saya petik dari rutin membaca, tidak hanya pikiran yang selalu fresh karena selalu diisi dengan pengetahuan baru namun juga bisa jadi penunjang profesi. Kemampuan merangkai kata dalam bentuk  tulisan dan kemampuan membaca kritis untuk research bahan tulisan rasanya lebih mudah saya jalani berkat rutin membaca buku.

Saat sudah menjadi ibu seperti sekarang pun, saya merasa peran sebagai ibu ini lebih mudah saya jalani berkat pengetauan parenting yang saya miliki. Pengetahuan ini tentu bisa saya dapat berkat runtin membaca berbagai buku parenting dan literatur.

Bagi saya, kecintaan terhadap membaca ternyata tidak hanya meninggalkan kenangan indah di masa kecil tapi juga bermanfaat dalam menunjang pekerjaan dan juga saat jadi orangtua.

Anak yang memiliki budaya membaca sejak kecil akan tumbuh menjadi orang dewasa yang mampu berpikir

Berbicara tentang manfaat membaca pernahkah teman-teman membaca quote ini ?

“A child who read will be an adult who think”

Seorang anak yang dibesarkan dengan budaya membaca akan tumbuh menjadi orang dewasa yang mampu berpikir, kira-kira begitu maksud quote diatas.

Yang dimaksud berpikir disini adalah seorang dewasa yang mampu berpikir secara kritis. Berpikir kritis  ini berhubungan dengan kemampuan bernalar, berpikir dalam dan juga berpikir secara bijak. Saya setuju bahwa kebiasaan membaca buku secara tidak langsung akan mempengaruhi kepibradian dan cara  berpikir seseorang. Seseorang yang senang membaca biasanya memiliki pemikiran yang lebih kritis. Tidak mudah percaya pada hal-hal yang belum bisa dibuktikan kebenarannya, tidak akan mudah termakan hoax karena terbiasa membaca suatu informasi secara lengkap. Memiliki pemikiran terbuka dan tidak mudah menghakimi sesuatu karena terbiasa membaca banyak pemikiran dari berbagai sudut pandang penulis . Memiliki banyak ide dan kreatif karena isi kepalanya selalu terisi dengan pengetahuan baru yang ia dapat dari membaca buku.

Pengalaman  jatuh bangun menanamkan budaya membaca pada Naoki

Atas dasar manfaat yang sudah saya sebutkan diatas maka ketika menjadi orangtua harapan saya tentu saja ingin menanamkan budaya membaca juga pada anak nantinya. Lalu ketika melihat foto-foto dibawah ini, rasanya harapan saya seperti sedang terwujud. Kini usia anak pertama saya Naoki sudah 4.5 tahun dan  Ia tumbuh menjadi balita yang sangat gemar membaca.menumbuhkan minat baca anak

Melihat foto-foto diatas, rasanya sungguh lega dan bahagia. Betapa sekarang dia sangat menikmati saat membaca buku, alhamdulillah saya berhasil menumbuhkan minat dan budaya membaca pada dirinya sejak dia masih balita.

Padahal kalau melihat beberapa tahun ke belakang, saat awal-awal saya mengenalkan buku padanya. Sungguh jauh dengan apa yang teman-teman lihat difoto. Dulu, saat dibacakan buku kadang dicueki, kadang kabur, kadang digit-gigit bukunya. Pokoknya macam-macam tingkahnya. Kalau sekarang pada akhirnya ia bisa menyukai dan bisa menggunakan buku dengan sebagaimana mestinya tentu hal ini tidak luput dari perjuangan. Nah kali ini saya mau berbagi cerita pengalaman dan cara yang saya terapkan dulu dan kini untuk menanamkan budaya membaca pada anak.

1.Membacakan buku sejak dalam kandungan

Saat hamil Naoki dulu, saya senang sekali membaca buku tentang kehamilan. Dari membaca buku tersebut saya kemudian jadi tahu bahwa mulai usia 5 bulan, bayi dalam kandungan sudah mulai bisa mengenali suara dari luar terutama suara  ibunya. Dimasa ini katanya, orangtua sudah bisa mulai membacakan buku cerita ke janin sebagai stimulasi awal pengenalan bahasa dan juga untuk mempererat bonding diantara kami . Maka sudah bisa ditebak kan apa yang kemudian saya lakukan? Di masa ini akhirnya saya mulai membacakan buku cerita  didekat perut setiap hari sebelum tidur malam.

2.Usia 4 Bulan-1 Tahun mengenalkan buku melalui buku kain

Usia 4 bulan Naoki sudah mulai bisa tengkurap, di usia ini saya kembali mulai mengenalkan buku padanya. Karena dia masih dalam fase oral yang sering memasukan benda apapun ke dalam mulut maka supaya aman,  buku yang saya pakai adalah buku kain yang tetap aman jika tergigit. Mengenalkan buku ke Naoki diusia ini tidak terlalu banyak hambatan, setiap diberi buku ia selalu antusias membolak-balikan halaman buku atau sesekali mengigitnya.

Buku yang saya berikan juga bukan buku cerita, tapi buku bergambar sederhana seperti bentuk-bentuk, hewan, dan kendaraan. Tujuannya supaya dia terbiasa dulu saja dengan buku.

menumbuhkan minat baca anak

 

3.Usia 1-2 Tahun berinteraksi dengan buku boardbook dan buku interaktif

Mulai usia 1 tahun ke atas adalah tahapan yang paling menantang. Di usia ini Naoki sudah memasuki mulai menampakan sikap egosentris, sudah punya kemauan sendiri. Dia juga sudah senang sekali meng-explore berbagai benda, termasuk juga buku. Jadi terkadang saat saya bacakan tidak lagi  penasaran dengan hanya  digigit saja, tapi kadang juga dilempar, atau dipakai alas duduk. Atau saat dibacakan dia malah kabur dan main mainan lain. Kadang juga mendengarkan tapi sambil jalan kesana kemari selalu aktif bergerak dan tidak bisa diam.

Melihat tingkahnya ini kadang sampai harus elus-elus dada, ekspektasi anak bisa duduk diam mendengarkan saya bercerita rasanya kok jauh sekali dari realita. Tapi saya memilih tidak menyerah. Saya terus mencoba membacakan buku atau mengajak berinteraksi dengan buku setiap hari.

Saya coba siasati denga mencarikan buku yang interaktifseperti buku POPUP, buku Flip Flap, Soundbook. Buku-buku interaktif dan berfitur ini ternyata sangat ampuh menarik minat Naoki terhadap buku.

Saya juga mencoba mencari buku-buku yang temanya sedang disenangi anak . Kebetulan di usia satu tahun,  Naoki sedang sangat suka kendaraan. Maka saya coba carikan buku-buku dengan bertema kendaraan. Buku ini adalah buku favorit Naoki saat itu:

Saat usianya menjelang 2 tahun, lama-lama dia sudah bisa mulai memperlakukan buku sebagaimana mestinya. Kemampuan berbicaranya juga berkembang pesat, kadang saya dibuat terharu saat dia membuka buku lalu bertanya “ini apa?” atau ketika tiba-tiba dia bisa menyebutkan beberapa nama dari gambar yang ia lihat dibuku, “ini apeeel” misalnya.

4.Usia 2-4 Tahun, Tetap konsisten membacakan buku setiap hari

Ibarat menanam padi, di usia ini saya bisa menyebutnya dengan masa panen. Kesabaran membacakan buku ke anak setiap hari akhirnya terbayar. Naoki mulai usia 2 tahun ke atas sudah sangat menyukai membaca buku, seperti pada video ini. Antusias sekali dia menyimak halaman demi halaman buku.

Sekarang usianya sudah 4.5 tahun, fase menanam sudah tunai. Sekarang saya tinggal  terus memupuk kecintaannya pada membaca hingga ia dewasa nantinya. Meskipun sekarang Naoki sudah suka membaca buku tapi konsistensinya harus tetap dijaga. Konsistensi ini saya jaga dengan tetap membacakan buku setiap hari sebelum tidur, menyediakan rak buku yang bisa dijangkau anak  agar dia bisa memilih buku sendiri serta menjadi teladan dengan sering mencontohkan membaca buku didepan anak.

Menanamkan budaya membaca  pada anak ternyata banyak manfaatnya

Dulu sebelum mulai mengenalkan membaca pada anak, saya berpikir bahwa membaca ini hanya akan bisa dipetik manfaatnya ketika anak sudah besar. Nyatanya tidak, justru setelah mencoba menerapkan budaya membaca buku pada anak sejak dini ternyata juga banyak manfaatnya. Terutama dalam mempengaruhi tumbuh kembang anak. Berdasarkan pengalaman kurang lebih 4 tahun menerapkan budaya membaca pada anak, kira-kira inilah beberapa manfaat yang bisa diperoleh:

1.Sebagai stimulasi kemampuan berbicara dan bahasa anak

Diatas tadi saya sudah bercerita bahwa saat memasuki usia 2 tahun kemampuan berbicara dan bahasa Naoki berkembang sangat pesat. Hal ini tidak lain berkat sering berinteraksi dengan buku karena lewat membaca buku anak akan sering mendengar banyak kosakata baru, juga akan sering melihat ibu bercerita yang tiap ucapan nya akan dia tiru. Makin banyak kosakata baru yang ia dengar dan ia tiru akan jadi stimulasi yang bisa membuat dia semakin lancar berbicara.

2.Melatih rentang perhatian dan fokus

Berinteraksi dengan buku bisa melatih rentang perhatian dan fokus karena ketika dibacakan buku anak akan duduk, dia tertarik melihat dan memperhatikan isi buku. Dia akan sibuk membolak balikan buku karena tertarik dengan warna, hewan, atau bentuk yang tergambar dalam buku. Kegiatan duduk, melihat, memperhatikan dan menyimak isi buku ini bagus sekali untuk melatih rentang konsentrasi dan fokus anak. Rentang perhatian dan fokus ini adalah salah satu modal utama saat anak belajar di sekolah nantinya.

3.Merekatkan bonding anak dan orangtua

Ketika membacakan buku buat anak, ayah atau ibu akan duduk bersama, anak dipangku lalu bersama sama melihat isi buku. Tertawa bersama ketika ada cerita yang lucu.

Momen  yang dekat dan tanpa jarak antara orangtua dan anak inilah yang  akan membuat bonding semakin erat.

4.Sebagai sarana menanamkan nilai-nilai kebaikan

Kalau boleh sedikit cerita, saat kecil saya memiliki satu buah buku favorit. Buku ini berisi kisah perjuangan seorang anak pemulung yang bermimpi bisa sekolah tinggi. Dan buku ini berhasil menginspirasi saya untuk berani bermimpi juga. Berani bermimpi bahwa anak dari pelosok desa juga bisa sukses seperti anak-anak di kota. Buku ternyata begitu magis, isinya mampu menanamkan nilai kebaikan dan mempengaruhi pikiran pembacanya.

Dan hal ini ternyata juga bisa diterapkan pada anak. Terutama jika dibacakan buku-buku yang memiliki nilai moral dan kebaikan, ternyata isi buku bisa mempengaruhi perilaku anak. Buku ini contohnya:

Buku yang berisi pesan tentang pentingnya menjaga kebersihan tangan dengan harus rutin memotong kuku.

Nah saat buku ini saya bacakan pada Naoki ternyata juga mampu mempengaruhi pikiran dan perilakunya. Sebelumnya dia selalu kabur kalau mau dipotong kukunya. Setelah dibacakan buku ini,  alhamdulillah dia berubah menjadi nurut. Mungkin karena dibuku ini ada penjelasan yang ringan tentang bahaya jika kuku tidak dipotong, dia paham alasannya dan sekarang selalu bersikap nice saat ada jadwal potong kuku.

6. Menanamkan budaya membaca

Ini adalah tujuan utama dari membacakan buku sejak dini, menumbuhkan budaya dan kecintaan pada membaca. Membaca karena cinta bukan hanya karena bisa. Cinta membaca tentu berbeda dengan hanya bisa membaca. Semua anak ketika sudah  sekolah pasti akan bisa membaca, tapi apakah semua anak ini nantinya jadi cinta terhadap buku dan membaca ? tentu tidak kan. Oleh karenanya menanamkan budaya dan cinta membaca ini juga penting dan menjadi harapan orangtua agar hingga anak dewasa.

Tantangan menyediakan bahan bacaan berkualitas untuk anak saat pandemi

Sudah tiga bulan lebih kami sekeluarga stay di rumah selama pandemi ini. Kebijakan pemerintah yang memberlakukan Physical Distancing juga PSBB memaksa semua orang, termasuk kami untuk tetap berada di rumah demi menekan penyebaran virus Covid-19.

Dan tantangan bagi saya yang memiliki balita super aktif adalah bagaimana membuat ia tidak bosan dan rewel dengan hanya berada di rumah selama 24 jam selama berhari-hari.

Naoki tergolong anak laki-laki yang sangat aktif dan senang bermain di luar rumah.  Sebelum pandemi biasanya ia selalu ada kegiatan main bersama dengan teman-teman, entah itu bermain sepeda atau bermain bola di lapangan depan rumah.

Semenjak pandemi tentu kegiatan bermain di luar ini terpaksa haru ditiadakan. Awal- awal dilarang bermain bersama teman, Naoki sempat protes. Untungnya saat kami coba jelaskan tentang bahaya virus corona dia bisa menerima dan memahami.

PR saya tinggal bagaimana dia bisa tetap betah di dalam rumah? Beruntungnya  Naoki suka membaca maka membaca buku bersama akhirnya saya pilih jadi salah satu kegiatan pengisi waktu di rumah.

Kebetulan kami punya  beberapa koleksi buku anak. Tapi ternyata sudah 3 bulan pandemi belum juga mereda. Naoki sudah mulai bosan membaca buku yang sama berulang-ulang.

Jujur saya sempat bingung bagaimana ya menyiasati hal ini?

Mau ke toko buku untuk beli buku baru rasanya tidak mungkin keluar rumah. Apalagi membawa Naoki yang rentan  karena masih balita dan memiliki sakit Asma.

Mau beli online? Keluarga kami termasuk yang terkena dampak pandemi ini. Pendapatan suami jauh menurun dan harus banyak berhemat agar tabungan bisa bertahan hingga pandemi usai dan semua kembali normal.

Tapi Allah Maha Baik, Di saat sedang gundah gulana seperti ini alhamdulillah, saya menemukan aplikasi Let’s Read.

Mengenal Let’s Read, Aplikasi Perpustakaan Digital yang menyediakan alternatif bahan bacaan berkualitas untuk anak 

Beruntungnya kini kita hidup di zaman ketika teknologi sudah berkembang pesat. Berkat teknologi dan internet berbagai persoalan bisa diatasi. Salah satunya ya masalah akses memperoleh buku bacaan yang jadi terbatas  saat pandemi seperti saat ini.

Untungnya saya kemudian menemukan aplikasi Let’s Read atau Ayo Membaca. Let’s Read adalah sebuah aplikasi perpustaakaan dan membaca digital yang hadir untuk menyediakan akses bacaan berkualitas bagi anak-anak. Aplikasi Let’s Read menyediakan banyak cerita bergambar berkualitas tinggi dalam format digital.

Let’s Read dikembangkan oleh The Asia Foundation dalam program Books for Asia. Misi dari dikembangkannya aplikasi  Let’s Read adalah menjadikannya sebagai sumber alternatif bacaan berkualitas yang mudah diakses secara gratis tanpa batasan tempat dan jarak  serta ikut melestarikan bahasa daerah dan konten/cerita lokal untuk anak-anak di asia.

Melalui aplikasi Let’s Read kini membacakan cerita untuk anak tidak harus melalui buku fisik saja tapi juga bisa melalui perangkat dan teknologi.

Wah pas sekali kan ini dengan apa yang sedang  saya cari. Enggak pakai waktu lama saya langsung install aplikasi ini di handphone dan juga tablet.

 

Keunggulan aplikasi Let’s Read yang bikin terkesan

Usai install di handphone dan tablet,  saya langsung mencoba meng-explore isi aplikasi Let’s Read.Daaaaaaan  saya sungguh terkesan.

Menu dan fiturnya  sederhana namun dibuat se-user friendly mungkin. Bahan bacaannya sangat banyak, ilustrasinya menarik, isi cerita juga selalu menyisipkan nilai moral di dalamnya.

Nah jika teman-teman juga ingin tahu lebih detail apa saja keunggulan yang dimiliki aplikasi Let’s Read, simak selengkapnya berikut ini ya:

1.Memiliki ratusan koleksi cerita bergambar dari berbagai negara di Asia

2.Tersedia dalam berbagai pilihan bahasa

Setidaknya ada kurang lebih 40 Bahasa yang tersedia di aplikasi Let’s Read. Baik itu bahasa daerah maupun bahasa nasional dari berbagai negara di Asia.

3.Tersedia tiga pilihan kategori pencarian

Dengan fitur ini teman-teman bisa mencari bahan bacaan tanpa pusing dan bingung. ada tiga pilihan kategori pencarian yaitu berdasarkan BAHASA, LEVEL KEMAMPUAN MEMBACA dan LABEL (berdasarkan tema tertentu).

4. Bahan bacaan bisa di download dan baca secara offline,

Jangan khawatir jika ingin mengakses aplikasi Let’s Read tapi paket data sedang habis atau wifi di rumah sedang bermasalah. Aplikasi Let’s Read memiliki fitur download bacaan dan tetap bisa diakses secara offline tanpa koneksi internet. Cara menggunakan fitur download bacaan bisa dilihat pada gambar berikut:

5.Terdapat pengaturan teks dan warna layar

Fitur ini bisa digunakan untuk mengatur ukuran font jika ingin diperkecil atau diperbesar, ada juga fitur untuk mengatur warna layar. Fitur ini bisa membantu mengurangi kecerahan layar sehingga saat membaca tidak menyakiti mata.

Nah itu tadi 5 keunggulan yang dimiliki aplikasi Let’s Read yang berhasil membuat saya terkesan.

Tak lama saya langsung mengenalkan aplikasi ini ke Naoki dan dia sangat suka. Sekarang Let’s Read  jadi bahan bacaan favorit kami saat di rumah selama pandemi ini.

Oh iya Cerita favorit Naoki adalah cerita yang berjudul Hitung dan Katakan. Kebetulan ia sedang suka belajar angka dan berhitung sederhana. Cerita ini pas sekali, ia bisa membaca cerita sambil menghitung jumlah benda yang ada digambar. Seru ya.

Melestarikan bahasa dan cerita daerah melalui budaya membaca

Selain fitur-fitur unggulan yang sudah saya sebutkan diatas, masih ada satu lagi fitur unggulan yang menjadikan aplikasi Let’s Read ini sangat istimewa, yaitu terdapat cerita dan bahasa daerah untuk anak-anak dari berbagai negara di Asia.

Ditengah gempuran modernisasi saat ini, rasanya budaya bangsa entah itu bahasa maupun cerita daerah kian lama akan hilang jika tidak ada yang bergerak untuk melestarikannya. Dan aplikasi Let’s Read hadir untuk ini. Menanamkan dan melestarikan budaya bangsa terutama bahasa daerah yang dikemas menarik dalam buku cerita.

Sejalan dengan apa yang ingin diwujudkan Asia Foundation melalui Let’s Read, saya dan suami sebagai orangtua yang tumbuh besar dalam lingkungan dan kultur yang berbeda (Asli suku Jawa, lahir dan besar di Lampung dan kini menetap di tanah Sunda) juga memiliki harapan yang sama pada Naoki. Kami ingin dia pun bisa mengenal bahasa jawa . Dengan mengenalkan bahasa jawa ini  semoga nantinya bisa tetap bisa mengingat silsilah keluarga dan menumpuhkan sikap toleransi akan keberagaman saat ia dewasa.

Menggunakan aplikasi Let’s Read mengenalkan bahasa jawa rasanya jadi lebih mudah dan menyenangkan, berkat cerita dan ilustrasinya yang menarik.

Akhir kata, adakah ibu-ibu yang memiliki harapan yang sama? Ingin bisa merasakan manfaat menanamkan budaya membaca pada anak ? atau mungkin ingin mulai mengenalkan bahasa daerah pada putra putrinya  ? Jika iya, yuk kita wujudkan bersama dengan membacakan cerita dari aplikasi Let’s Read. Aplikasinya bisa diunduh di sini.

***

Salam 

Titik Wihayanti

 

Referensi :

Setiawan Roosie.2017. Membacakan Nyaring. Jakarta :Naoura Publishing.

Suhartono.2014.Pengaruh kebiasaan membaca, kemampuan berpikir kritis, dan penguasaan struktur sintaksis terhadap kemampuan menulis ilmiah. Lentera Pendidikan.7 (1).

Napitupulu, Irene.2016 Pengaruh kebiasaan membaca dan kemampuan berpikir kritis terhadap kemampuan menulis teks argumentasi oleh siswa kelas X SMA PARULIAN 1 MEDAN TP 2015/2016. Thesis. Universitas Negeri Medan.

https://asiafoundation.org/what-we-do/books-for-asia/lets-read/ – Diakses  5 Juni 2020.

 

 

22 thoughts on “Serunya menanamkan budaya membaca pada anak menggunakan bacaan digital dari Let’s Read

  1. Aplikasi yang keren banget! Banyak tinggal di wilayah perkotaan, terus terang aku nggak membayangkan bahwa ada anak-anak yang kesulitan mengakses sumber bacaan yang sesuai untuk usia mereka. Duh, padahal membaca tuh kegiatan yang nyenengin banget. Aku masih ingat gimana dulu sukanya membaca Bobo, Ananda, Lima Sekawan, Tin-tin, dan Mimin.

    Semoga semakin banyak orangtua yang mengenal Let’s Read dan terbantu untuk mengajak putra-putrinya gemar membaca.

    1. Aminnn Mba. semoga melalui aplikasi lest read ini semakin banyak orangtua yang tergerak untuk menanamkan budaya baca ke putra putrinya ya

  2. Anak saya juga suka dibacakan buku cerita sebelum tidur. Bagus banget aplikasi Lets Read ini ya mbak, bisa jadi alternatif untuk membacakan cerita ke anak, kalau buku cetaknya dah habis dibaca semua.

    1. Sama banget Mba, apalagi lagi pandemi seperti ini ke toko buku takut, mau beli buku dananya juga lagi tipis banget. Lest Read membantu banget jadi alternatif bacaan

  3. Budaya baca untuk anak dan para orang tua harus didisiplinkan ya mbak. Orang tua tidak hanya memberikan bahan bacaan tapi juga bisa menjadi teladan (karena anak belajar juga melihat dari aktivitas orang tua) dengan itu anak akan senang dan terbiasa dengan membaca. Eeeh apalagi ditambah dengan aplikasi ini, sangat memudahkan para orang tua untuk membacakan buku anak²♥️

    1. Iya mba orangtua memberi teladan dengan mencontohkan membaca buku juga di rumah, trus diajak baca bersama pakai aplikasi lest read. Pasti anak jadi tumbuh minat bacanya

  4. PR banget nih buat saya biar anak-anak suka dengan aktivitas membaca. Si sulung masih ogah-ogahan kalau diajak membaca karena dia terpapar gadget. Kalau adiknya sih sekarang mulai suka bolak-balik buku kakaknya. Mau coba aplikasi let’s read ini kayaknya buat mengalihkan anak dari nonton youtube pas megang hape

  5. Membaca buku juga jadi salah satu yang saya lakukan untuk melekatkan bounding dengan anak-anak. Terkadang saya buat aktivitas membaca menjadi mendongeng (biasanya saya pakai boneka tangan). Mereka jadi semangat menyimak dan nagih untuk minta dibacakan cerita terus. 🙂

  6. Wah Alhamdulillah anak mba minat membaca ya. Kutipannya bagus sekali, tentang anak yang membaca akan jadi orang dewasa yang berpikir ya. Alhamdulillah ada let’s read, memudahkan tugas orangtua

  7. Asiknya buku-buku digital dari Lets Read ini bisa diakses secara offline. Jadi kalau lagi nggak ada koneksi wifi atau kuota data, anak-anak tetap bisa baca buku yang sudah didownload di aplikasi ini.

  8. Bermanfaat banget nih instal aplikasi ini. Bisa untuk media membaca dimanapun dan kapanpun. Misal pas bepergian, anak tetap bisa membaca banyak buku tanpa harus bawa-bawa segambreng buku kemana-mana ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *