Memahami gejolak emosi anak usia toddler

trantrum2
Picture source: pixabay.com

Bulan lalu ada beberapa teman yang bercerita, teman sesama ibu muda dan mereka bercerita hal yang hampir sama yaitu mengenai kondisi anaknya yang menjelang usia 2 tahun ini jadi mudah sekali rewel, sebentar-sebentar nangis, dan jadi agak susah dimanage. Sejujurnya kalau mengingat dulu saat usia naoki menjelang 2 tahun rasanya sama, saya pun mengalami apa yang teman-teman tersebut rasakan.

Naokipun dulu sama, sekitar usia 19 bulan. dia yang sebelumnya mudah dimanage, sweet, jarang rewel eh kok jadi mudah sekali marah, ada hal yang kurang pas sedikit marah. Kalau minta sesuatu dan ga saya perbolehkan dulu nurut-nurut saja. Sekarang super ngeyel, marah kalau tidak dituruti dan kalau sudah marah susah sekali di alihkan ke hal lain. Sebentar-sebentar bilang “gamau”, nak yuk mandi dijawab “gamau”, nak pakai baju “gamau”,nak sekarang waktunya bobo dijawab “gamau” lagi. Semua hal serba gamau. Subhanallah kewalahan sekali rasanya, bahkan kadang sayapun ikutan jadi ga sabar dan balik marah menghadapi perubahan sikap naoki ini.

Merasa kewalahan dan takut makin lama makin ga sabar menghadpai anak yang selalu rewel. Lalu saya berusaha mencari tau  kenapa sih dia ini? saya selalu percaya anak rewel pasti ada sebab, ga mungkin rasanya naoki berubah sedemikian “memusingkan” tanpa ada sebabnya. Nah kalau dari hasil mengamati sikapnya sehari-hari setidaknya ada 4 berubahan sikap yang paling menonjol dan mungkin ini adalah penyebab dari perubahan sikapnya tersebut, apa saja ya:

  1. Ngeyel atau kekeuh dan sering bilang “ tidak mau”

Perubahan sikap ini merupakan bagian dari  perkembangan emosi dan sosialnya. Bilang “tidak mau” artinya naoki sudah mulai sadar bahwa dia bisa memilih atau menolak melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Ngeyel  dan kekeuh jika menginginkan sesuatu juga adalah cara dia mempertahankan pilihannya.

  1. Sering rewel

Perubahan sikap ini sepertinya adalah bagian dari perkembangan  emosinya yang sedang bergejolak, namun ia belum paham cara mengekspresikan gejolak emosi tersebut. Apalagi  untuk anak yang belum bisa bicara sehingga bersikap rewel seperti jadi sedikit-sedikit menangis, merengek adalah satu-satunya cara untuk memberitahu kita bahwa mood dia sedang buruk.  Sering rewel juga biasanya terjadi pada naoki jika kebutuhan dasar  anak tidak terpenuhi, misalnya kelelahan karena kurang tidur, lapar, kurangnya perhatian orangtua dan kurangnya waktu bermain.

  1. Tantrum

Tantrum terjadi pada naoki biasanya karena dia keukeuh ingin sesuatu tapi tidak saya perbolehkan atau ketika dia sedang lapar atau kecapekan tapi kekeuh masih ingin bermain. Tantrum sebenarnya bisa dicegah asal kita sebagai orangtua peka mengamati ciri-cirinya dan segera melakukan tindakan pencegahan supaya emosi anak tidak sampai meledak.

3 hal di atas terjadi pada naoki karena memang anak usia menjelang 2 tahun sedang mengalami gejolak perkembangan emosi. Dan hal ini wajar karena jika saya perhatikan di lingkungan rumah,rata-rata teman sebaya naoki mengalami hal serupa. Paling yang membedakan adalah kalau anak laki-laki lebih sering marah sedangkan anak perempuan biasanya lebih sering merengek atau menangis. Yang perlu lakukan dalam kondisi anak seperti ini adalah berusaha mengerti dan memahami. Anak menjadi sulit diatur, rewel,tantrum bukan karena ia mau membuat kita pusing dan kewalahan tapi karena ini adalah fase yang memang mau tidak mau harus di lewai oleh anak.  Fase ini adalah fase penting dalam perkembangan emosi dia. Dari yang saya pelajari, bagaimana anak melewati fase ini akan menentukan bagaimana dia mengelola emosinya saat dewasa nanti. Bagaimana reaksi kita saat anak sedang tantrum atau rewel akan dia contoh,misalnya ketika dia rewel lalu orangtua merespon dengan balik memarahi atau menghukum. Maka anak akan belajar bahwa cara merespon orang yang sedang marah adalah dengan marah juga, buka dengan pengertian dan ditenangkan. Ketika anak nangis lalu kita respon dengan “udah dong,jangan nangis, cengeng amat” akibatnya lama-lama anak jadi sungkan untuk menangis, padahal menangis itu hal yang wajar sebagai luapan dari perasaan sedih. Perasaan sedih atau marah yang diabaikan,yang tidak dipahami  orang lain terutama orangtua, tidak hanya akan menghancurkan basic trust tapi lama-lama juga akan mematikan rasa empati anak. Akan mematikan kepedulian anak terhadap perasaan orang lain. Tentu bukan itu kan yang kita harapkan dari anak-anak kita saat dewasa nanti?

Buat anak anak masa ini merupakan masa paling berat dalam tahap perkembanganya, mereka juga belum bisa memahami kenapa dia menjadi rewel. Mereka berharap ada orang lain yang mampu membantu dia memahami perasaannya, dan orang tersebut tentu saja kita, orangtuanya sebagai orang terdeket. Tapi misalnya saat anak rewel lalu kita balik marah, balik membentak. Anak merasa dipahami tidak perasaannya? Tentu tidak kan. Makanya kenapa jika anak rewel lalu kita respon dengan bentakan atau marah, anak malah akan jadi semakin rewel.

trantrum1
Picture Source : pixabay.com

Lalu bagaimana cara bersikap yang tepat saat anak sedang marah, ngeyel, dan rewel ? mungkin cara yang sudah saya terapkan ke naoki ini bisa bunda coba:

  1. Ketika sedang ngeyel mau sesuatu,saya akan lihat dulu apakah permintaannya tersebut bisa ditolerir. Jika BISA maka akan saya perbolehkan,tapi kalau TIDAK ya harus konsisten “TIDAK”. Konsekuensinya tentu saja anak akan makin rewel,nangis atau bahkan tantrum. Tapi menurut saya tidak apa-apa, sepanjang kita tetap bisa calm dan ga emosi ketika anak tantrum lama-lama dia akan belajar tentang rasa kecewa, bahwa tidak semua hal yang dia pengen harus dipenuhi.
  2. Sering bilang “tidak mau” adalah bentuk dari cara dia mempertahankan pilihannya. Dan kita harus pahami itu, jangan dimarahi atau dipaksa untuk MAU karena sikap ini penting nantinya untuk membentuk dia menjadi anak yang mempunyai prinsip atas pilihannya ketika dewasa nanti. Lalu gimana supaya dia tetap mau mandi, makan, tidur padahal dia kekeuh bilang “tidak mau?” bisa dengan dirayu dengan cara sekreatif mungkin, misalnya ketika tidak mau mandi biasanya saya ajak naoki main buble dulu dari sabun, ketika tidak mau tidur coba diajak baca buku dulu bersama.
  3. Ajari anak mengenali emosi yang ia rasakan dan cara menyalurkannya dengan baik. Ketika anak berteriak, memukul atau memendang coba terus diingatkan dengan sabar tapi tegas bahwa kita boleh marah asal tidak sambil memukul, menendang, melempar, merusak barang atau bahkan menyakiti diri sendiri.
  4. Tantrum adalah bentuk akhir dari luapan emosi yang tidak bisa ditangani dengan baik. Oh iya, Khusus untuk tantrum, kapan-kapan saya akan bahas di blog bagaimana supaya kita bisa menghadapi anak yang tantrum tanpa drama ikut emosi dan tantrum.

Jadi untuk bunda sekalian yang saat ini anaknya sedang ada difase ini, semangat dan terus bersabar ya. Kesabaran dan pengertian kita insya Allah akan bisa membimbing anak-anak menjadi manusia yang mampu mengelola emosinya dengan baik saat dewasa nanti.

2 thoughts on “Memahami gejolak emosi anak usia toddler

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *