Cerita singkat mengenalkan tentang Allah SWT pada anak usia dini

Tahun 2017 lalu saya pernah kuliah PAUD (pendidikan anak usia dini). Salah satu mata kuliah yang saya dapat adalah mata kuliah komunikasi anak usia dini. Mata kuliah ini adalah  salah satu mata kuliah favorit saya karena dosennya yang lugas dalam menyampaikan dan sering memberikan contoh cara berkomunikasi dengan anak berdasarkan kasus-kasus didunia nyata sehingga terasa lebih real dan mudah untuk dipahami.

Salah satu pembahasan yang beliau sampaikan beberapa saat yang lalu adalah mengenai bagaimana cara kita menyampaikan mengenai Tauhid  yaitu mengenal Allah SWT dengan anak usia dini. Dalam sesi pembahasan ini beliau bercerita menggunakan kasus dunia nyata yang bau saja dialaminya yaitu mengenai anaknya yang ingin meninggal supaya bisa meminta IPAD ke ALLAH SWT SWT.

Beliau bercerita jika beberapa waktu yang lalu anaknya minta dibelikan IPAD namun tidak dibelikan oleh beliau, lalu beberapa hari kemudian saat pulang dari mengaji si anak berkata  ke beliau  bahwa dia ingin meninggal. Beliau  tentu saja kaget mendengar pernyataan anaknnya yang agak aneh dan spontan tersebut. Apalagi ada kata “meninggal”. Pak Dosen lalu bertanya kembali ke anaknya “Lho kenapa tiba – tiba kamu ingin meninggal? ” si anak menjawab “Biar bisa bertemu dengan ALLAH SWT, aku  mau minta IPAD kan Allah SWT Maha Pemurah jadi kalau kita meminta apapun pasti akan diberi”.

Jawaban yang polos dari seorang anak kecil. Namun apa yang ia dikatakan memang benar bahwa Allah SWT maha pemurah. Hanya apakah jika meminta kepada Allah SWT harus selalu dengan cara meninggal? Tentu saja tidak. Nah hal inikah yang  mungkin perlu diluruskan. Setelah ditelisik lebih dalam oleh Pak Dosen akhirnya beliau tahu bahwa anaknya dapat berkata  mengenai meninggal dan bahwa Allah SWT maha pemurah dari guru ngajinya.

Jadi beberapa hari sebelumnya, Guru ngajinya mengajarkan mengenai sifat- sifat  Allah SWT yaitu bahwa Allah SWT Maha Melihat Dan Maha Mendengar, Beliau menjelaskan hal tersebut sambil menggambar di papan tulis bentuk telinga dan mata. Selain itu guru mengaji juga menjelaskan  bahwa Allah SWT Maha Pemurah.  Bahwa apapun yang diinginkan oleh hambanya pasti akan diberikan jika si hamba ini mau meminta.Kemudian ada anak yang bertanya bagaimana cara bertemu dengan Allah SWT supaya kita bisa meminta ? Si guru menjawab dengan meninggal , karena dengan meninggal maka ruh kita akan terbang ke ke atas kelangit dan bisa bertemu dengan Allah SWT. Dari penjelasan ini kemudian anak mengambil kesimpulan bahwa agar dia bisa mendapatkan IPAD dia bisa meminta ke ALLAH SWT, dia ingin meminta langsung kepada Allah SWT. Dan cara bertemu dengan Allah SWT adalah dengan meninggal. Fatal sekali jika anak ini benar melakukan apa yang disimpulkan.Inilah salah satu  contoh  berkomunikasi yang kurang tepat dengan anak usia dini. Ketidaktepatan penyampaian oleh guru diartikan berbeda oleh anak meskipun mungkin tujuan dari penyampaian itu benar.

Ketidaktepatan penyampaian yang pertama yang dilakukan oleh guru saat menjelaskan bahwa Allah SWT Maha Melihat Dan Mendengar ke siswa adalah beliau sambil menggambar mata dan telinga.  Padahal seharusnya itu tidak dilakukan karena Allah SWT tidak bisa divisualisasikan dalam bentuk apapun. Tidak ada satupun manusia yang tahu pasti bagaimana rupa atau wujud dari Allah SWT . meskipun mungkin maksud dari guru tersebut menggambar telinga dan mata adalah sebagai visualisasi dari kata “melihat” dan “Mendengar” agar mudah lebih mudah dipahami oleh anak  saat beliau sedang menjelaskan. Namun nyatanya ini justru diartikan berbeda oleh anak. Anak-anak mungkin jadi menggambarkan bahwa Allah SWT memiliki rupa dengan wajah, mata dan telinga sehingga bisa ditemui layaknya manusia.

Ketidaktepatan penyampaian yang kedua yang dilakukan oleh guru saat menjelaskan bagaimana cara kita bertemu dengan Allah SWT adalah dengan cara meninggal . Padahal belum tentu jika meninggal kita bertemu dengan Allah SWT. Mungkin akan lebih baik jika dijelaskan bahwa dengan kebesaran Allah SWT yang maha melihat sebenarnya setiap saat kita bisa bertemu dengan Allah SWT, Allah SWTselalu  mengawasi dan melihat kita setiap saat meskipun kita tidak melihat Allah SWT secara langsung. Dan cara kita meminta kepada Allah SWT  agar dikabulkan adalah tidak perlu dengan meninggal cukup dengan berdoa, karena Allah SWT maha mendengar makan IA pasti akan mendengarkan doa dan permintaan kita meskipun kita tidak bertemu.

Kesalahan dalam berkomunikasi inilah yang digarisbawahi oleh pak dosen, bahwa berkomunikasi dengan anak usia dini itu harus tepat jangan sampai diartikan lain oleh anak. Anak usia dini belum bisa mencerna dengan baik hal-hal yang bersifat abstrak seperti tentang Allah SWT yang tidak bisa dilihat secara langsung. Ia lebih mudah memahami hal-hal yang bersifat konkret, yang mampu ia lihat, pegang dan rasakan secara langsung. Namun bukan berarti kita tidak perlu mengajarkan tentang Tauhid pada anak usia dini. Mengajarkan tentang tauhid sangat perlu karena merupakan bagian dari menanamkan fitrah keimanan pada diri anak. Tetapi memang cara yang penyampaiannya harus tepat. Nah dalam sesi perkuliahan tesebut Pak Dosen juga menjelaskan cara bagaimana seharusnya penggambaran tentang Allah SWT ini disampaikan dengan tepat. Simak kelanjutannya dibawah ini ya.

Mengenalkan tentang Allah SWT dengan cara yang tepat ke anak adalah dengan merangsang imajinasi mereka. Katakan pada anak bahwa Allah SWT itu MAHA BESAR, sambil menjelaskan bahwa Allah SWT itu MAHA BESAR minta anak untuk membayangkan dalam benak mereka seperti apa besar itu. Lalu jelaskan kembali bahwa MAHA itu artinya sesuatu yang sangat kuat, yang saking kuatnya kuasa Allah SWT dalam melihat dan mendengar maka tidak mampu digambarkan dalam bentuk apapun. Kita adalah manusia yang merupakan ciptaan Allah SWT, hasil buatan tidak mungkin sama dengan pembuatnya. Yang artinya manusia sekuat sepintar apapun tidak akan bisa menyamai kekuatan Allah SWT sebagai sang pembuat atau pencipta.Kita bisa menjelaskan hal ini dengan nada yang bersemangat untuk menegaskan bagaimana begitu besarnya Allah SWT dengan harapan anak dapat menangkap nilai – nilai kebesaran Allah SWT yang kita sampaikan.

Inilah cerita singkat mengenai bagaimana cara kita menjelaskan menganai Allah SWT atau cara kita mengenalkan Allah SWT pada anak usia dini dengan cara yang insya Allah SWT tepat yaitu melalui komunikasi yang tepat pula.

Satu hal penting juga yang perlu diperhatikan orangtua, sebaiknya kita juga terbiasa melakukan komunikasi terbuka dengan anak. Misalnya rutin menanyakan kegiatan atau pelajaran apa yang sudah diterima disekolah atau ditempat mengaji hari ini, tujuannya supaya kita sebagai orangtua bisa melakukan filter terhadap hal hal yang sudah dipelajari oleh anak agar jika terdapat kesalahan atau ada sesuatu yang tidak tepat dapat kita koreksi atau diberi penjelasan dengan cara yang lebih tepat. Hal ini juga menjadi reminder bagi orangtua bahwa pendidikan anak tidak bisa hanya dipercayakan kepada lembaga pendidikan saja, kita sebagai orangtua juga perlu melakukan monitoring dan kontrol terhadap apa saja yang sudah dipelajari anak disekolah atau ditempat mengaji.

Sekian cerita singkat saya tentang cara menyampaikan tentang Tauhid pada anak usia dini. Semoga bisa diambil manfaatnya ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *