5 Cara menanamkan keimanan dan cinta beribadah pada anak usia dini

Salah satu tujuan pengasuhan atau pendidikan di rumah yang saya dan suami ingin capai adalah mampu menanamkan keimanan dan cinta beribadah pada anak anak kami. Kami berharap keimanan ini mampu menjadi pondasi hidup dan pengontrol baginya hingga ia dewasa kelak. Sedangkan kecintaan beribadah semoga menjadikan ia seorang muslim yang taat beribadah bukan hanya karena kewajiban atau takut dosa melainkan taat beribadah sebagai wujud syukur dan taqwanya kepada Allah SWT.

Selama proses menanamkan keimanan dan cinta ibadah ini banyak sekali kami mengalami trial dan eror, betul-betul butuh niat kuat dan konsisten supaya tidak malas mengajak anak ikut dalam ibadah sehari-hari atau berdialog tentang keimanan. Dan satu hal perubahan besar yang kami alami dalam proses menanamkan keimanan ini yaitu kamipun jadi ikut berproses menjadi muslim yang lebih baik. Kami merasa keimanan kamipun ikut meningkat dan ibadah sehari hari jadi lebih giat.  Memang benar kutipan dari Abah Ihsan bahwa “kita perlu menjadi orangtua yang saleh dulu sebelum meminta anak menjadi salih”.

Pada sharing tentang parenting kali ini saya ingin berbagi beberapa cara atau langkah yang kami pernah coba terapkan untuk menanamkan keimanan dan cinta ibadah pada anak kami naoki. Cara yang kami terapkan tidak asal dan sembarangan.  Cara – cara ini kami dapat dari berbagai referensi, baik dari buku parenting islami maupun dari sharing para pakar parenting islami di sosial media.

Sebelum membahas tentang cara atau langkah yang kami terapkan sebelumnya saya ingin menjelaskan sedikit mengapa sangat penting menanamkan keimanan dan cinta beribadah sejak dini.

PENTINGNYA MENANAMKAN KEIMANAN PADA ANAK SEJAK DINI

Menurut Okina Fitriani dalam buku The Secret of  Enlightening Parenting,  Manusia lahir dengan fitrah yaitu fitrah suci dan membawa potensi baik. Salah satu pintu utama potensi baik adalah percaya kepada Tuhan. Setiap insan lahir dengan keadaan telah bersaksi pada keesaan Tuhan. Kesaksian atas keesaan Tuhan adalah dasar dari tegaknya iman. Maka tugas orangtua untuk menjaga potensi baik anak agar tetap baik atau mengupayakan agar menjadi lebih baik.

Ya menanamkan keimanan anak sejak dini menjadi penting sebagai  upaya untuk menjaga potensi baik anak yang ia bawa sejak lahir.  Potensi keimanan yang terjaga dengan baik insya Allah akan mampu menjadikan tertanamnya 1 pilar kuat dalam diri anak yaitu MAHABAH . Mahabah artinya adalah rasa cinta kepada ALLAH SWT. Rasa cinta yang kuat dalam bentuk iman dan taqwa insya Allah akan mampu menjadi pondasi dan penjaga diri anak hingga ia tumbuh dewasa nantinya.

PENTINGNYA MENANAMKAN CINTA IBADAH SEJAK DINI

Selain menanamkan keimanan, hal penting lain yang juga  perlu ditanamkan dalam diri anak adalah  cinta beribadah. Menanamkan cinta ibadah ini tujuan jangka pendeknya adalah agar saat anak memasuki usia 7 tahun, dimana pada masa ini anak sudah mulai memiliki kewajiban untuk melaksanakan shalat dan ibadah wajib lainnya sudah tumbuh rasa terbiasa pada kegiatan beribadah.

Tak kenal maka tak sayang bukan? agar pada masa ini anak tidak sulit diajak beribadah maka perlu dikenalkan sejak dini, saya sendiri mengenalkan tantang kegiatan ibadah ini sejak anak berusia 1 tahun. Pengenalannya dengan mengajak anak sering terlibat pada kegiatan ibadah sehari-hari tanpa paksaan. Lebih detial cara pengenalannya akan saya bahas di paragraf selanjutnya.

Tujuan jangka panjangnya dengan modal keimanan yang kuat dan pengenalan ibadah yang menyenangkan tanpa dipaksa semoga kelak saat dewasa akan tumbuh  rasa cinta beribadah. Beribadah bukan hanya sebagai kegiatan memenuhi kewajiban atau takut dosa saja, namun beribadah sebagai wujud syukur atas rahmat kehidupan yang telah dikaruniakan kepadanya.

5 CARA MENANAMKAN KEIMANAN DAN CINTA IBADAH PADA ANAK USIA DINI :

  1. Mengenalkan tentang Allah SWT

Mengenalkan tentang Allah SWT  mulai saya terapkan pada anak kami Naoki sejak ia berusia 1 tahun. Saya mulai dengan sering membacakan kalimat syahadat dan mengenalkan Lafaz Allah SWT dan Rasulullah SAW yang saya tempel di dinding rumah.  Caranya dengan menyebutkan ini seperti ini :

“Nak ini bacanya  ALLAH kalau ini MUHAMMAD”  sambil menunjuk pada gambar.

Lama – lama Naoki mulai mengerti saat saya tanya “ Coba tunjuk mana bacaan ALLAH nak” maka ia akan menunjuk Lafaz Allah.

  1. Mengajak anak mengenal alam

Mulai usia 2 tahun sejak kemampuan berbicara Naoki mulai berkembang pesat saya mulai mengenalkan Siapa Allah dan ciptaannya. Hampir setiap hari saya mengajak Naoki melakukan Nature Walk. Nature Walk adalah kegiatan menjelajah alam. Tapi dulu saya tidak mengajak ke alam sungguhan seperti hutan. Saya cukup mengajak dia berkeliling lingkungan rumah. Melihat pohon, rumpuh, ayam, batu-batuan, matahari, awan dan lainnya.

Setiap melihat satu jenis pohon atau rumput saya ajak berhenti lalu saya ajak dia berdialog kira kira seperti ini :

Ibu : “ Nak ini namanya pohon pisang, pohon pisang ini ciptaan Allah, Allah yang bikin pohon pisang ini . hebat ya Allah bisa bikin pohon pisang”

Naoki : “ Iya”

Ibu : “Kalo ibu bisa ga bikin pohon pisang kaya gini?”

Naoki : “ bisa ga ibu?”

Ibu : “Ga bisa nak, ibu ga bisa bikin pohon. Ibu bisanya bikin jus buah buat naoki”

Dan seterusnya setiap melihat ciptaan Allah lain misalnya matahari, awan . saya akan memberitahukan seperti dialog diatas.

Lucunya sekarang saat naoki sudah berusia 3 tahun, dia bisa membedakan mana ciptaan Allah dan mana yang ciptaan Manusia.

  1. Sering diajak berdialog tentang iman

Salah satu contoh dialog tentang iman adalah dialog yang saya lakukan dengan naoki diatas, tentang ciptaan ALLAH. Contoh lainnya jika anak sedang sakit, ajak anak berdoa minta kesembuhan kepada ALLAH. Bisa juga dengan memberi penjelasan ke anak kenapa kita harus berdoa dulu saat makan, kita perlu berdoa sebagai bentuk syukur karena bisa makan makanan, dengan makan badan jadi kuat, tidak lemas jadi bisa bermain lagi.

Sampaikan dialog dengan bahasa yang ringan dan mudah dicerna anak.

  1. Sering diperdengarkan ayat-ayat suci Al-Quran

Memperdengarkan ayat aya suci Al-Quran saya mulai sejak usia naoki bayi awalnya menggunakan rekaman murattal. Lalu pada usia 1 tahun saya mengganti dengan sering membacakan surat-surat pendek  setiap mau tidur malam. Tujuannya adalah karena anak usia dini cepat sekali menyerap segala sesuatu.  Termasuk hal-hal yang ia dengar dari lingkungan sekitar. Untuk menjaga potensi keimanannya maka sebaiknya yang sering ia dengar adalah suara-suara kebaikan yang ada dalam ayat suci Al-Quran.

  1. Dilibatkan dalam kegiatan ibadah sehari-hari

Cara menanamkan cinta beribadah yang kami lakukan adalah dengan sering mengajak anak dalam melakukan ibadah sehari-hari, contohnya :

  • Ikut shalat berjamaah

Sejak anak umur 1.5 tahun biasanya ia akan mulai ikut-ikutan saat melihat orangtuanya sholat, ia mulai tertarik ingin mencoba juga. Nah pada saat inilah kami biarkan ikut sholat berjamaah bersama. Semakin besar usianya makin kami fasilitasi dengan menyediakan peci, sarung dan sajadah khusus untuk anak supaya semakin semangat ikut sholat. Mengajak shalat ini baru kami lakukan di rumah, belum di masjid karena kami memiliki pertimbangan untuk mengajarkan anak adab dulu sebelum diajak shalat ke Masjid.

Namun ada kalanya ia tidak mau ikut sholat dan memilih untuk bermain, kalau sudah begini kami biarkan dan tidak memaksa, besok ditawarkan lagi untuk ikut, begitu terus secara konsisten . Ingat tujuan mengajak ini adalah supaya tumbuh kebiasaan dan rasa cinta terhadap ibadah. Kalau anak dipaksa kira-kira bisakah tumbuh rasa cinta? Tentu tidak, malah mungkin yang tumbuh adalah rasa terpaksa.

  • Mengaji bersama

Setiap selesai shalat magirb secara rutin kami mengaji bersama anak, tujuannya sama untuk membiasakan anak dengan kegiatan membaca Al-Quran. Kami mulai sejak usia Naoki 2 tahun. Biasanya saya akan mengaji dulu dan dia duduk menunggu saya selesai.  Setelah selesai lalu kami bermain flashcard bergambar huruf hijaiyah agar  dia familiar dengan huruf tersebut untuk modal belajar IQRO nantinya. Di usia 3 tahun saya mulai mengajak membaca juz amma bersama dan menghafal surat-surat pendek. Di usia 3,5 Tahun kami mulai mengajari Naoki membaca IQRO 1 dan alhamdulillah anaknya selalu bersemangat. Mungkin karena sejak kecil sudah dibiasakan dengan kegiatan mengaji sehingga saat diajak belajar IQRO bukan hal yang asing lagi baginya.

  • Menghafal Doa-Doa

Selain shalat berjamaah dan mengaji bersama, kami juga mulai mengajarkan untuk membaca doa sejak usia 1,5 tahun. Cara mengajarkan dengan mulai membiasakan membaca doa sebelum makan, membaca doa sebelum tidur, membaca doa orangtua sesudah shalat berjamaah. Setiap mengajarkan sebuah doa kami selalu mengaitkan dengan kegiatannya.  Menghafal doa makan sebelum makan, doa tidur sebelum tidur, dan kegiatan lain yang sesuai dengan doa yang akan diajarkan. Tujuanya agar anak paham bahwa berdoa itu memiliki tujuan untuk mengharap berkah dari kegiatan yang akan dilakukan, bukan sekedar untuk dihafalkan saja.

Itulah beberapa cara yang saya dan suami sudah terapkan untuk menanamkan keimanan dan cinta ibadah di rumah. Sebenarnya masih banyak cara lainnya seperti membacakan kisah-kisah nabi, mengajak shalat di masjid, mengenalkan puasa. Namun cara tersebut belum semua kami terapkan mengingat anak kami masih berusia 3.5 tahun, insya Allah secara bertahap cara lainnya  akan kami coba terapkan. Oh iya  jika Ayah Bunda butuh referensi lebih banyak bagaimana cara menanamkan keimanan dan cinta ibadah pada anak, boleh dibaca buku RUMAHKU MADRASAH PERTAMAKU Karya DR.KHALID AHMAD SYANTUT terbitan Pustaka RMA. Atau PROPHET PARENTING karya  DR. MUHAMMAD NUR ABDUL HAFIDZH SUWAID terbitan PRO-U MEDIA. Cover kedua buku tersebut dapat dilihat dibawah ini :

IMG20191104072545

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *